Senin, 10 Agustus 2015

~Nenek Renta~


Penghujung malam kian rapuh
Memanggil pagi yang tak teduh
Memberi arti kekuatan yang runtuh
Sementara dipelosok sana badai resah membanjir
Mengalunkan kematian untuk setiap nafas yang menghela

Nenek tua tergopoh menenteng sekantong harapan
Sebab daun layu tak mengalir bersama irama sungai
Gemericik ranting bernyanyi pilu, pergi dihening hutan
Yang tak nampak pada pandang mata renta
“kemana harusku cari atas semua kehilangan ini?”

Nenek tua berjalan menghampiri pohon beringin
“dulu kau begitu kokoh dengan segala akar yang
menguatkan Bangsa”
Sembari menghitung sisa daun, nenek kembali meringis

“Lusa akan aku bawakan satu keranjang bola api
Yang bisa menghentikan seluruh helaan nafasmu!”


Nenek, jangan kau sesali Negeri mati dengan gunung sampah
Sebab dasi berlambang kebaikan
Meski ribuan kali kau berceloteh “MERDEKA”
Tapi tetap saja gerobakmu tak ada harga
Terganti dengan roda-roda mewah
Yang penuh kata “DUSTA”

Nenek renta mengais sampah
Mencari yang tersisa dari kemewahan
Berharap meneguk sedikit manis dari sebuah perjuangan
“meski berkali-kali kau mendorongku untuk jatuh
aku tetap si renta yang menjadi saksi berdarah”
nenek renta berucap pada gerobak sekarat
“kelak akan ada tiba dimana anakku “PERTIWI” tak lagi
menangis dalam kekuasaan semu”

Bjb, Nov ‘14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar