Penghujung
malam kian rapuh
Memanggil pagi yang tak
teduh
Memberi arti kekuatan
yang runtuh
Sementara dipelosok
sana badai resah membanjir
Mengalunkan kematian
untuk setiap nafas yang menghela
Nenek tua tergopoh menenteng
sekantong harapan
Sebab daun layu tak mengalir
bersama irama sungai
Gemericik ranting bernyanyi
pilu, pergi dihening hutan
Yang tak nampak pada
pandang mata renta
“kemana harusku cari
atas semua kehilangan ini?”
Nenek tua berjalan
menghampiri pohon beringin
“dulu kau begitu kokoh
dengan segala akar yang
menguatkan Bangsa”
Sembari menghitung sisa
daun, nenek kembali meringis
“Lusa akan aku bawakan
satu keranjang bola api
Yang bisa menghentikan
seluruh helaan nafasmu!”
Nenek, jangan kau
sesali Negeri mati dengan gunung sampah
Sebab dasi berlambang
kebaikan
Meski ribuan kali kau
berceloteh “MERDEKA”
Tapi tetap saja gerobakmu
tak ada harga
Terganti dengan roda-roda
mewah
Yang penuh kata “DUSTA”
Nenek renta mengais
sampah
Mencari yang tersisa dari
kemewahan
Berharap meneguk
sedikit manis dari sebuah perjuangan
“meski berkali-kali kau
mendorongku untuk jatuh
aku tetap si renta yang
menjadi saksi berdarah”
nenek renta berucap
pada gerobak sekarat
“kelak akan ada tiba
dimana anakku “PERTIWI” tak lagi
menangis dalam
kekuasaan semu”
Bjb, Nov ‘14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar