Senin, 10 Agustus 2015

MENGHITUNG MUSIM (1)


Waktu yang cemburu mengisyaratkan luka baru
Hingga usia tak bisa terhitung dan berlalu
Menceritakan  sejengkal masa yang tersedu
Pada sebaris rumah  Bubungan Tinggi

Aku berlari sembari menghitung sawah
ikan Papuyu dan Haruan tak lagi ikut menyapa
Meski aku terus mencari diantara beton-beton cantik itu
Aku kehilangan sungai nan jernih
Terganti dengan Rumah-rumah yang elit

Aku lupa, bagaimana menghitung musim
Agarku bisa mengarungi sungai Martapura tanpa aksesoris sampahnya
Hingga akhirnya aku sadar
Aku kehilangan!!
Bagaimana aku harus mengembalikannya?

Banjarbaru, 1 Mei 2015
(Antologi Tadarus Puisi Banjarbaru 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar