Jumat, 19 Juni 2015

~Memintal Benang Yang Kusebut Rindu (untuk ayahanda di istana langit)



Pada bulan Januari 8 tahun lalu
Kau sisipkan semua duka yang menganga
Sementara kau pergi jauh melintasi cakrawala
Dan berjanji akan mengirim surat rindu diantara lirih hujan
Pada jembatan pelangi yang berwarna
“aku kembali menenun benang yang kusebut kerinduan”

Pada kemarau Oktober tahun ini
Aku masih memintal benang keyakinan
Berharap kau mengirimkan rindu pada semilir angin
Atau surat yang diikat pada kaki merpati
“aku kembali memintal keyakinan “

Masih pada tahun ini November
Tepat dimana hari yang aku tunggu
Saat aku berharap lorong waktu kembali terbuka
Dan membiarkan kau kembali disini
Untuk sejenak mengingat masa ceria dibawah mentari
Atau  memancing ikan, dan bernyanyi bersama
Lalu kita tertawa



“masihkah kita ingat, saat janji yang tertera perihal kasih yang abadi di hati”
Aku berucap pada ilalang yang sunyi, mati!                                                                          
Terbakar api tadi pagi
Cukup kau ucap janji yang memanah pada sepenggal waktu
“aku percaya”

Aku berjanji
Saat nanti  kubelah jingga-jingga yang lecah di cakrawala
Pada sepenggal sore senja dan pagi yang tersisa
“akan aku buka pintu langit untuk menyapamu”

Tapi hingga malam dan musim berganti
Tak jua ku temui sore yang bahagia
Ataupun pagi yang gembira

Meski ribuan kali kupintal benang berwarna
Kau tetap tak menyapa
Harsukah kembali ku rajut benang
Agar kau merasakan kehangatan rindu
Yang terus ada….

Banjarbaru Oktober 2013