Sabtu, 19 April 2014

JENDELA HUJAN

(untuk ayahanda di balik singkapan langit)






“jendela itu akan terbuka seiring tetesan hujan
Yang membawa sayu cerita”
Ucapan yang terdengar sayup  membawa seiris keyakinan
Dingin ini adalah rindu yang tertampung di dalam belanga kasih

“ hujan akan menyemai kerinduan dari balik genteng rumah kita
Dan akan hilang bersama gerimis yang tersisa”
Suara lirih tenang menyakinkanku bahwa kau akan hadir
Menjelma tetesan-tetesan hujan yang tenang
Menyelimuti bagian rindu dengan mantel dingin bening

“apakah kita akan bertemu jika aku menunggumu
di bawah hujan hari ini?”
kali ini aku berucap sambil menatap langit mencari singkapan yang kau sebut  jendela
aku, hanya merindukan tarian hujan yang merintik di sela candamu yah..
sementara musim terus saja berganti
haruskah kembali aku nanti musim panas
agar aku temui hujan ini lagi

“bukankah kita berjanji akan saling
Menunggu di Altar kerinduan yang memuncak”
Suara lirih terdengar dan  hujan berhenti, matahari kembali
Aku mulai tak mengerti arti dari ini
Sebab hujan hanya meninggalkan sisa genangan air di tangga-tangga langit sore
Sementara kau tak kunjung menyapaku dari balik singkapan langit
kau hilang bersama tirai-tirai pelangi yang aku yakini hujan ini nanti kembali

 Banjabaru, 18 februari 2014

(dimuat pada Antalogi "Cinta DIBALIK HUJAN")