Pagi ini udara cukup dingin, sebab
kabut terlalu pekat akibat pembakaran hutan yang kian menjadi-jadi. Perempuan
itu mulai memacu kecepatan motornya menjadi 60km/jam, sebab terakhir dia
melirik jam di tangan kirinya menunjukan pukul 07.45 WITA, menandakan dia sudah
terlambat dari ketentuan jam masuk sekolah. Dia mulai menghela nafas, berharap
motornya bisa dengan cepat berlari
melewati jalanan yang ramai. Mungkin tidak hanya dia yang terlambat bekerja,
sebab beberapa kali dia diselip oleh pengendara lain yang juga tergesa.
Sekolah mulai sunyi, jam pelajaran
pertama telah dimulai, dia perlahan meletakan motornya disamping motor besar
berwarna merah. Gugup. Dia merasa bahwa motor besar itu menghakimi atas
keterlambatannya. Dia mulai berjalan memasuki ruang sekolah, dengan langkah
cepat dia segera menekan tombol absen. Terdengar ucapan terimakasih dari mesin
absensi otomatis tersebut. Sambil menyapa beberapa guru yang tengah bertugas di
pengawas harian, dia mulai menuju ruang yang letaknya berada dipojok sekolah:
Perpustakaan. Ketika melewati sebuah tangga langkahnya terhenti, dia tercekat
menatap sesosok yang membuatnya tak bisa tidur selama beberapa hari terakhir.
“Bagaimana jika aku rekomendasikan
beberapa buku bagus, tentang motivasi?”, Dea mulai memberikan rekomendasi
kepada Leon dalam forum chat media sosial, sebagai Pustakawati, tentu Dea
merasa harus memberikan banyak masukan kepada orang yang memerlukan referensi,
“Boleh”, ucap Leon dingan, dan kemudian ruang chat Leon menunjukan offline, Dea
hanya tersenyum kecut melihat forum chat dan mematikan computer. Namun beberapa
hari kemudian mereka sering chat, banyak berbagi cerita dan berdiskusi mengenai
berbagaimacam hal yang menarik menurut mereka. Dea dan Leon sejak saat itu,
seakan dekat di dalam dunia maya namun jauh di dunia nyata. Sejak kedekatan
mereka di dunia maya, Dea semakin gugup jika melihat Leon yang juga bekerja di
sekolah yang sama dengan Dea, entah karna malu, atau karna rasa yang tidak bisa
digambarkan oleh Dea. Tapi yang pasti mereka hanya berdiam saja, jika
berpapasan dimanapun, Dea menikmati saja, sebab ada beberapa hal yang selalu
membuatnya merasa dekat dengan Leon. Punggungnya.
Satu jam sudah Dea berdiri menatap
tangga melalui sela-sela tirai perpustakaan, berharap Leon turun dari tangga,
dan memberikan kesempatan kepada Dea menatap punggungnya. Meskipun jika Leon
tahu, dia tidak akan memberikan kesempatan itu. Leon tahu Dea adalah sosok
perempuan yang hanya bisa dia jadikan teman, tak ada ruang apapun atas perasaan
itu. Semua remuk. Setelah mengetahui Dea sudah memiliki pasangan yang akan
mempersuntingnya. Sementara Dea, masih begitu setia menunggu punggung itu hadir
mengisi visualisasi angan-angannya. Meski takkan pernah bisa. Dibalik tirai perpustakaan
Dea mulai menangisi hati yang begitu gamang.