kau boleh jauh dariku tapi tetaplah dekat dengan Allah..
kau boleh tak mengingatku tapi teruslah mengingat-NYA...
mungkin aku hanya berada dalam setiap katamu, tapi aku tak berada di sana "dalam doamu"
aku lelah harus berbica pada sunyi dan hening...
yang dijawab oleh air mata..
maafkan aku karna mengungkit-ungkit masa yang sudah berlalu..
berkali-kali aku menghempaskan emosi, bahkan hingga aku tak mengenali hati dan harga diri...
lantas...
masihkan aku berjalan di ambang waktu yang tak lagi sama...??
memanahkan sisa puing-puing doa yang takkan pernah habis untukmu..
lalu...
kita saling berpisah, dalam sekantung doa yang terlampau banyak di dengar Allah..
aku biarkan kau pergi, dengan siapapun yang kau mau. tapi aku mohon pulanglah sewaktu adzan berkumandang..
pulanglah sebelum kau terlalu di rindukan ayahmu, ibumu, adikmu..
dan datanglah saat mereka mencarimu...
ingatlah; mereka satu-satunya alasan kau menjadi kuat.
dan aku...????
hanya sebaris kata yang terucap hingga menjadi rindu yang terlampau jauh untuk pergi, menjadi senja yang perlahan hilang dimakan sunyi malam...
meski bintang menyapa...
aku akan tetap terpana..
menunggu jingga pagi merona....
menabur pesona jiwa..
yang hilang dengan seketika...
8,ags'14
Jumat, 08 Agustus 2014
Senin, 30 Juni 2014
CINTA YANG TANPA SAYAP
Aku masih ingat....
saat butir air berjatuhan dibumi, dan semua orang sibuk mengenakan jubah anti air yang akan melindungi mereka menuju tujuan. Begitu juga aku.
Kita...
Bertemu dalam satu ruang yang tak hampa, tak kosong, tak panas, tak dingin, tak gelap, tak terang....
Namun ruang yang hangat dan bernyawa...
Aku masih ingat....
Saat itu aku tengah sibuk menyeruput kopi dengan gelas cantik berwarna putih, aromanya cukup enak, mungkin kopi lokal yang di tumbuk dengan "Lasung" perlahan aku melirikmu dengan ekor mataku...
Kamu di sana..
dengan tangan yang dilipat, dengan sikap tenang namun tetap menarik memperhatikan orang yang di depan sana berbicara.
"aku tersenyum"
Kamu tau..???
Sebenarnya aku juga tau kamu melirikkan matamu kearahku yang sedang kaku menyesap kopi itu...
Tiba-tiba...
kita sama-sama berada di ruang dingin yang mengakukan seluruh sendi-sendi ini...
Kita sama-sama tertawa lalu saling menghangatkan...
Aku masih ingat...
hingga detik yang tak bisa berkata..
hingga sajak ini terungkap...
hingga kita tak lagi menatap...
hingga kita saling melupa...
hingga daun tak lagi merona...
dan tentu saja...
hingga cinta yang takkan pernah tumbuh sayap...
Bjb 2014
saat butir air berjatuhan dibumi, dan semua orang sibuk mengenakan jubah anti air yang akan melindungi mereka menuju tujuan. Begitu juga aku.
Kita...
Bertemu dalam satu ruang yang tak hampa, tak kosong, tak panas, tak dingin, tak gelap, tak terang....
Namun ruang yang hangat dan bernyawa...
Aku masih ingat....
Saat itu aku tengah sibuk menyeruput kopi dengan gelas cantik berwarna putih, aromanya cukup enak, mungkin kopi lokal yang di tumbuk dengan "Lasung" perlahan aku melirikmu dengan ekor mataku...
Kamu di sana..
dengan tangan yang dilipat, dengan sikap tenang namun tetap menarik memperhatikan orang yang di depan sana berbicara.
"aku tersenyum"
Kamu tau..???
Sebenarnya aku juga tau kamu melirikkan matamu kearahku yang sedang kaku menyesap kopi itu...
Tiba-tiba...
kita sama-sama berada di ruang dingin yang mengakukan seluruh sendi-sendi ini...
Kita sama-sama tertawa lalu saling menghangatkan...
Aku masih ingat...
hingga detik yang tak bisa berkata..
hingga sajak ini terungkap...
hingga kita tak lagi menatap...
hingga kita saling melupa...
hingga daun tak lagi merona...
dan tentu saja...
hingga cinta yang takkan pernah tumbuh sayap...
Bjb 2014
Sabtu, 19 April 2014
JENDELA HUJAN
(untuk ayahanda di balik singkapan langit)
“jendela itu akan terbuka seiring tetesan
hujan
Yang membawa sayu cerita”
Ucapan yang
terdengar sayup membawa seiris keyakinan
Dingin ini
adalah rindu yang tertampung di dalam belanga kasih
“ hujan akan
menyemai kerinduan dari balik genteng rumah kita
Dan akan hilang
bersama gerimis yang tersisa”
Suara lirih tenang
menyakinkanku bahwa kau akan hadir
Menjelma
tetesan-tetesan hujan yang tenang
Menyelimuti
bagian rindu dengan mantel dingin bening
“apakah kita
akan bertemu jika aku menunggumu
di bawah hujan
hari ini?”
kali ini aku
berucap sambil menatap langit mencari singkapan yang kau sebut jendela
aku, hanya
merindukan tarian hujan yang merintik di sela candamu yah..
sementara musim
terus saja berganti
haruskah
kembali aku nanti musim panas
agar aku temui
hujan ini lagi
“bukankah kita
berjanji akan saling
Menunggu di
Altar kerinduan yang memuncak”
Suara lirih
terdengar dan hujan berhenti, matahari
kembali
Aku mulai tak
mengerti arti dari ini
Sebab hujan
hanya meninggalkan sisa genangan air di tangga-tangga langit sore
Sementara kau
tak kunjung menyapaku dari balik singkapan langit
kau hilang
bersama tirai-tirai pelangi yang aku yakini hujan ini nanti kembali
Banjabaru, 18 februari 2014
(dimuat pada Antalogi "Cinta DIBALIK HUJAN")
Sabtu, 22 Februari 2014
SALAM UNTUK BUNGA (semangat untuk negeriku tercinta)
ku titipkan salam damai pada angin yang berhembus
ku sampaikan pada setiap bait yang tertera
tentang sebuah cerita malam yang hampa
sementara jingga masih terang di angkasa raya
tak mengapa aku berbicara pada beberapa bunga
“bukankah kita masih mengayuh menuju cahaya?”
biarkan langit hampa
dan salam damai tak nyata. hilang
masih tak mengapa, sebab suara kita masih pekat dalam jiwa
masih berirama dengan dentang detik yang berlalu
hingga kau bunga akan tetap kuat
meski dimakan hari yg lewat
terseret arus debu
ku sampaikan pada setiap bait yang tertera
tentang sebuah cerita malam yang hampa
sementara jingga masih terang di angkasa raya
tak mengapa aku berbicara pada beberapa bunga
“bukankah kita masih mengayuh menuju cahaya?”
biarkan langit hampa
dan salam damai tak nyata. hilang
masih tak mengapa, sebab suara kita masih pekat dalam jiwa
masih berirama dengan dentang detik yang berlalu
hingga kau bunga akan tetap kuat
meski dimakan hari yg lewat
terseret arus debu
Kamis, 20 Februari 2014
SEPOTONG RESEP KUE HARAPAN
Ini tentang kue, kuelam atau kueming, bisa juga kuemu, kueku mungkin saja
kuekita. Gula gurih, keju manis dan butter lumer, lelehan coklat layaknya
sungai asmara terasa apek namun syahdu. Tak lupa butiran almound yang membuat renyah.
Kerinduan ini tentang sepotong kue
Kue harapan yang mampu aku buat
Dengan sejuta better cinta
Dengan ratusan mentega rindu
Berwarna pelangi dan jingga sore
Beraroma vanila bercampur coklat
Dari resep yang kau tulis dengan tanganmu
Bermandikan rindu pada-NYA dan sejuta obat sabar peneguk rasa sakit
Sepotong kue untukmu
Kutitipkan pada angin dan
embun
Kusematkan pada sepasang
kaki merpati
Kusemaikan pada aliran
sungai
Bersamanya kau pergi
Pada harapan sepotong kue
Pada hiasnya
Pada warnanya
Semua tertanam sebuah harapan
Kau tahu?
Aku masih membuat kue itu
Namun takkan pernah serupa
Pada hiasnya
Pada warnanya
Selalu tergores sebuah
kerinduan
Tentang sosokmu
Dengan pensil kecil dan secarik kertas
Kau torehkan resep itu
Resep tentang kue harapan
Senin, 17 Februari 2014
KUBELAH BULAN SAAT ANGIN TAK MENYAPA GAUNKU
Hiruk-pikuk
peniti malam
Mengarungi
selembar kegelapan jiwa
Lalu terbang
bersama angin
Menghitung derap
menit
Mengarungi waktu
dalam kelam
Hingga pagi
menyapa jingga
Tapi tetap saja
kau tak hilang
Dihamili waktu
yang menjalar
Menutupi suara
liar
Kuteriak
kuteriak??
Kuteriak
kuteriak!!
Takk mampu
menyapa
Hingga angin
membelai dinding jedela.
Langganan:
Postingan (Atom)