Sabtu, 29 Agustus 2015

Pemilik Punggung



Pagi ini udara cukup dingin, sebab kabut terlalu pekat akibat pembakaran hutan yang kian menjadi-jadi. Perempuan itu mulai memacu kecepatan motornya menjadi 60km/jam, sebab terakhir dia melirik jam di tangan kirinya menunjukan pukul 07.45 WITA, menandakan dia sudah terlambat dari ketentuan jam masuk sekolah. Dia mulai menghela nafas, berharap motornya bisa dengan cepat  berlari melewati jalanan yang ramai. Mungkin tidak hanya dia yang terlambat bekerja, sebab beberapa kali dia diselip oleh pengendara lain yang juga tergesa.
Sekolah mulai sunyi, jam pelajaran pertama telah dimulai, dia perlahan meletakan motornya disamping motor besar berwarna merah. Gugup. Dia merasa bahwa motor besar itu menghakimi atas keterlambatannya. Dia mulai berjalan memasuki ruang sekolah, dengan langkah cepat dia segera menekan tombol absen. Terdengar ucapan terimakasih dari mesin absensi otomatis tersebut. Sambil menyapa beberapa guru yang tengah bertugas di pengawas harian, dia mulai menuju ruang yang letaknya berada dipojok sekolah: Perpustakaan. Ketika melewati sebuah tangga langkahnya terhenti, dia tercekat menatap sesosok yang membuatnya tak bisa tidur selama beberapa hari terakhir.
“Bagaimana jika aku rekomendasikan beberapa buku bagus, tentang motivasi?”, Dea mulai memberikan rekomendasi kepada Leon dalam forum chat media sosial, sebagai Pustakawati, tentu Dea merasa harus memberikan banyak masukan kepada orang yang memerlukan referensi, “Boleh”, ucap Leon dingan, dan kemudian ruang chat Leon menunjukan offline, Dea hanya tersenyum kecut melihat forum chat dan mematikan computer. Namun beberapa hari kemudian mereka sering chat, banyak berbagi cerita dan berdiskusi mengenai berbagaimacam hal yang menarik menurut mereka. Dea dan Leon sejak saat itu, seakan dekat di dalam dunia maya namun jauh di dunia nyata. Sejak kedekatan mereka di dunia maya, Dea semakin gugup jika melihat Leon yang juga bekerja di sekolah yang sama dengan Dea, entah karna malu, atau karna rasa yang tidak bisa digambarkan oleh Dea. Tapi yang pasti mereka hanya berdiam saja, jika berpapasan dimanapun, Dea menikmati saja, sebab ada beberapa hal yang selalu membuatnya merasa dekat dengan Leon. Punggungnya.
Satu jam sudah Dea berdiri menatap tangga melalui sela-sela tirai perpustakaan, berharap Leon turun dari tangga, dan memberikan kesempatan kepada Dea menatap punggungnya. Meskipun jika Leon tahu, dia tidak akan memberikan kesempatan itu. Leon tahu Dea adalah sosok perempuan yang hanya bisa dia jadikan teman, tak ada ruang apapun atas perasaan itu. Semua remuk. Setelah mengetahui Dea sudah memiliki pasangan yang akan mempersuntingnya. Sementara Dea, masih begitu setia menunggu punggung itu hadir mengisi visualisasi angan-angannya. Meski takkan pernah bisa. Dibalik tirai perpustakaan Dea mulai menangisi hati yang begitu gamang.

Kamis, 13 Agustus 2015

Biarkan Angin Menyapu Sisa Imajinasiku


(untuk paman kaki panjang)


Aku memulai langkah pada sedikit sisa malam
Kau berjalan begitu mudah hingga aku tercekat
Pada sunyi yang angin pun menjadi senyap
Aku terhenyak sesaat, pada diam yang mematung
Menahan hempasan degup jantung memecah asaku
Meringkih pada setapak jalan gelap. Aku tersesat

“Bukankah kita saling memilin waktu agar kiranya kita bisa berdamai?
Menghilangkan hawa panas, yang tidak bisa ditembus meski dengan jutaan embun”

Kau…
Masih terus berjalan pada waktu yang hampa
Meski ribuan udara sejuk kau hirup
Namun tetap saja. Kau senyap
lalu hilang, walau jutaan cahaya menyilaukan bahagia
Kau begitu indah dalam dekap sunyi dan hanya aku yang tau
Kau begitu damai  pada ruang yang kau miliki sendiri
Kubiarkan angin mengusap air mataku hingga kering
Dan menyadarkanku bahwa kau adalah semu
Yang terbungkus doaku setiap waktu

Banjarbaru, 13 Agust ‘15

Senin, 10 Agustus 2015

~Nenek Renta~


Penghujung malam kian rapuh
Memanggil pagi yang tak teduh
Memberi arti kekuatan yang runtuh
Sementara dipelosok sana badai resah membanjir
Mengalunkan kematian untuk setiap nafas yang menghela

Nenek tua tergopoh menenteng sekantong harapan
Sebab daun layu tak mengalir bersama irama sungai
Gemericik ranting bernyanyi pilu, pergi dihening hutan
Yang tak nampak pada pandang mata renta
“kemana harusku cari atas semua kehilangan ini?”

Nenek tua berjalan menghampiri pohon beringin
“dulu kau begitu kokoh dengan segala akar yang
menguatkan Bangsa”
Sembari menghitung sisa daun, nenek kembali meringis

“Lusa akan aku bawakan satu keranjang bola api
Yang bisa menghentikan seluruh helaan nafasmu!”


Nenek, jangan kau sesali Negeri mati dengan gunung sampah
Sebab dasi berlambang kebaikan
Meski ribuan kali kau berceloteh “MERDEKA”
Tapi tetap saja gerobakmu tak ada harga
Terganti dengan roda-roda mewah
Yang penuh kata “DUSTA”

Nenek renta mengais sampah
Mencari yang tersisa dari kemewahan
Berharap meneguk sedikit manis dari sebuah perjuangan
“meski berkali-kali kau mendorongku untuk jatuh
aku tetap si renta yang menjadi saksi berdarah”
nenek renta berucap pada gerobak sekarat
“kelak akan ada tiba dimana anakku “PERTIWI” tak lagi
menangis dalam kekuasaan semu”

Bjb, Nov ‘14

MENGHITUNG MUSIM (1)


Waktu yang cemburu mengisyaratkan luka baru
Hingga usia tak bisa terhitung dan berlalu
Menceritakan  sejengkal masa yang tersedu
Pada sebaris rumah  Bubungan Tinggi

Aku berlari sembari menghitung sawah
ikan Papuyu dan Haruan tak lagi ikut menyapa
Meski aku terus mencari diantara beton-beton cantik itu
Aku kehilangan sungai nan jernih
Terganti dengan Rumah-rumah yang elit

Aku lupa, bagaimana menghitung musim
Agarku bisa mengarungi sungai Martapura tanpa aksesoris sampahnya
Hingga akhirnya aku sadar
Aku kehilangan!!
Bagaimana aku harus mengembalikannya?

Banjarbaru, 1 Mei 2015
(Antologi Tadarus Puisi Banjarbaru 2015)

KAMPUNG HALAMAN


Ayah, jika aku memanggilmu pulang kau akan terkejut
Pada satu waktu yang kita sebut masa kini

Ayah, jika aku menjemputmu pada dermaga sungai rindu
Kau akan mengerti bahwa waktu bisa mengubah cerita

Ayah, jika engkau mengingat masa itu, lupakan!

Tak ada La’ang yang bisa kita buat menjadi Gula
Sebab mereka hilang!, dimakan waktu
Tak ada lagi Hanau yang berbuah Timbatu
Karna mereka sudah habis! Termamah besi-besi gila itu

Oh ayah…
Cepatlah pulang
Kembalikan pohon itu untukku menabung
Dimasa yang akan datang!

Banjarbaru, 16 April 2015
(Antologi Tadarus Puisi Banjarbaru 2015)

“ Menghitung Musim”


Ujung malam memanggil pagi
Kicau burung menyambut ceria mantari
Embun pagi bergoyang molek
Pada ujung daun enceng gondok

Ayah menyeruput sisa kopi terakhir
Sembari menghitung musim

Ibu mengayam sisa tikar tua
Sembari menghitung pohon enau

“tak pula kita mampu menghitung musim
Yang rapuh ditangan manusia”

Ibu, kemana harus kita cari
Rimbun pohon tua itu
Ayah ajari aku menghitung musim

Namun tolong..
Jangan ajari aku pasang pupur
Dan berjualan di sungai Martapura
Sembari mengayuh Jukung

“akan aku ajarkan kau, mengais rezeki di
Hamparan budaya yang lapuk”


Bjb, Nov ‘14
(Antologi Aruh Sastra XI  Tapin: 2014)