Senin, 23 September 2013

Hukum KERTAS

lalang-lalang kertas menari
tersenyum-menangis
berbicara dalam kebisuan
hening...
Menjawab-lalu membisu

berserakan disana-sini
sebuah kertas usang
tanpa arti
namun berlaku
selalu,....

bisa dijual
membawa uang
memberikan harta
namun banyak membawa duka

menangis, berteriak,meraung
kertas bersayap terbang keangkasa

beling-beling semu
memampangkan-kertas putih
sementara, cermin fatamorgana
berkata jujur-kertas hitam

Hey pembuat hitam!!!
pantaskah aku marah
merobek kertas hitam
lalu mencoret kertas putih

sementara kau melindungi mereka
mengaku suci padahal ikut mencuri

Insang: Aku

Senja jingga menapaki hari
bercengkrama dengan para pengumpul ikan
perahu mereka tak goyah walau gelombang menghantam
jala mereka takkan robek meski ikan menari disana

Di ujung pantai nampak sang mata rapuh berdiri
menanti sosok pengumpul ikan kembali
kura-kura kecil berjalan dipesisirnya
mencari induk yang telah tua disamudera

desir angin kali ini cukup tenang
meski tetap memainkan rokku yang panjang
menyemai soal kerinduan yang menghadang
kemudian mati tertutup sang karang

hingga malam mencekam
tarian suara kukulai* memanggil mistik

aku tetap menulis walau huruf tak lagi bersahabat
walau kata menjauhi
dan kalimat tak mau bersatu lagi

kutulis tentang kalimat rindu
namun sakit kini bersatu
kuucap sebait nestapa
tapi harapan itu telah tiba

walau Aku tak mampu lagi berdiri disini
menunggu perahu yang berjanji akan membawaku
pergi menuju harapan yang semakin menjauh
aku tak sanggup lagi menahan gelombang
jiwa yang kian rapuh atas apa yang tak mampu aku menulisnya

maaf, sebuah tentang kata
huruf yang disatukan
dan bermakna sebuah permintaan

aku akan mengalah dengan ombak
menyerah pada desiran angin

mungkin,
rokku akan terbang
dan berbicara pada kukulai
lalu mengikuti kura-kura kesamudera
tapi bukan mencari induk tua

melainkan mencari Paus tua
mereka yang bergigi taring
bernafas dengan paru-paru
dan kuat untuk pergi
menembus gelombang samudera

sebab aku hanya ikan kecil
yang hnya bernafas dengan insang
dan tak mampu
mengarungi samudera disana

*kukulai: burung hantu dalam bahasa banjar

Jumat, 20 September 2013

Lihatlah….!!!



Pagi ini saat tetesan air terdengar
Gemuruh awan berhempasan
Aku bangun semabari membuka jendela
Menatap daun yang tanpa embun
Menatap burung yang tanpa sayap
Akupun menyaksikan pula
Gunung yang tak lagi indah, banyak sekali pohon tumbang
Inikah Indonesiaku sekarang saat para DPR berkoar-koar
Ingin mensejahterakan rakyat Indonesia
Namun alam Indonesia dirampas untuk mengisi perut mereka
Wahai…
Tikus-tikus elit ….
Tidakkah kau saksikan alam Indonesia yang semakin menangis
Dan hanya melihat kesejahteraan kalian dalam
Kematian yang semakin mendekati

~PAH~

sampai detik ini aku tidak tahu apa yang harus aku tulis
aku bahkan tidak tahu harus memikirkan atau tidak perlu dipikirkan
mungkin rangkaian huruf, kata, kalimat, bahkan paragraf sekalipun takkan mampu berucap..

hey pah..
hari ini saat aku coba
merangkai huruf..
menyatukan kata..
dan saat membuat kalimat
aku yakin kau sedang membacanya
dibalik singkapan langit..

hey pah...
bagaimana rasanya berada di sisi-NYA
aku yakin kau bahagia disana...
aku tahu kau mengirimkan bintang yang bisa aku lihat
dari balik jendela

kau tahu pah..??
aku disini baik-baik saja
walau terkadang
pelangi tak berwarna
dan tak ada nyanyian burung...

Pah...
bagaimana kalau nanti kita memancing bersama?
bernyanyi bersama?
dan tertawa bersama?

aku terus berlari pah...
walau kadang lelah tak terasa lagi
dan keringat mulai mengering..

Pah...aku merindukanmu