Kamis, 26 April 2012

makalah kearsipan:sistem kronologis,abjad,dan nomor



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
   Seperti yang kita ketahui bahwa arsip itu berisi dokumen yang sangat penting dan selalu di gunakan untuk berbagai kepentingan baik secara individual ataupun secara kelompok(instansi). Selain arsip harus di rawat dengan baik,kita juga harus menggunakan sistem-sistem dalam penyimpanan arsip tersebut,agar arsip tersebut dapat di temukan dengan cepat dan bisa di gunakan.
B.     Tujuan
   Tujuan pembuatan makalahuntuk menyelesaikan tugas dari ibu pembimbing kami,serta agar dapat memahami seperti apa sistem yang di gunakan untuk memudahkan petugas mencari dokumen.
C.     Ruang Lingkup
System kronologis,system abjad,dan system nomor
D.    Metode pengumpulan Data
Menyeleksi bahan yang didapat dari berbagai media, serta menyatukannya dalam sebuah makalah yang sistematis.

E.     Sistematika Penulisan
Agar pembaca lebih mudah memahami isi makalah ini, kami menyusun makalah ini dengan sistematika berikut :

BAB I   PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
                        -.Sistem Kronologis
                        -.Sistem Abjad
                        -.Sistem Nomor
BAB III PENUTUP
Sistem kronologis

            Sistem kronologis adalah sistem penyimpanan warkat yang di dasarkan kepada urutan waktu surat di terima atau waktu dikirim ke luar. Penyimpanan warkat sistem ini biasanya mempergunakan map ordner. Hubungan penyimpanan sangat erat dengan Buku Agenda,karena susunanya sama-sama kronologis.
       Tetapi pencarian informasi ini dapat memakan waktu lama karena petugas tidak mungkin ingat waktu-waktu warkat diterima atau dikirim,sehingga informasi terpaksa dicari dengan membalik halaman buku agenda satu demi  satu. Sesudah informasi ditemukan barulah warkat dapat dicari pada map ordner. Riwayat pencatatan dengan Buku Agenda,buku induk,buku besar,maupun lain-lain,memang sudah cukup lama. Pekerjaan registrasi atau pencatatan apapun dilakuakn dengan buku,dan yang paling mudah kemudian menjadi kebiasaan adalah mencatat secara berurutan(kronologis). Akibatnya,kalau buku ini sudah banyak karena menampung catatan selama bertahun-tahun,catatan yang di simpan tersebut susah dicari. Model pencatatan seperti ini sudah biasa di lakukan di mana-mana,mulai dari RT,Kelurahan,bank,kantor polisi,kantor-kantor pemerintah dan swasta. Cara pencatatan pada buku secara kronologis ini merupakan salah satu kelemahan penting dalam pelaksanaan sistem administrasi di Indonesia[1].


A .KUITANSI
             Contoh  paling jelas dari  sistem penyimpanan  kronologis yang masih banyak dilakukan di Indonesia adalah penyimpanan kuitansi. Dengan penyimpanan kronologis biasanya kuitansi hanya mudah di temukan bila melalui petunjuk tanggal dari catatan pembukuan. Padahal untuk kepentingan pemeriksaan,pengawasan,pembukuan atau pun lainnya,kuitansi seyogianya dapat di temukan dengan cepat bila di perlukan. Untuk itu diperlukan sistem penyimpanan yang tepat yang dapat di pilih dari salah satu sistem berikut ini,yaitu Sistem-abjad,Sistem Numerik. Sedangkan pemakaiaan sistem kronologis niscaya tidak akan membantu percepatan penemuan kuitansi,karena untuk  dapat mencari kuitansi pertugas harus terlebih dahulu mengetahui tanggal kuitansi diterima,baru dapat mencari kuitansi dari map ordner yang diperlukan. Tanggal kuitansi diterima dapat dilihat dari pembukuan. Mencari tanggal kuitansi dari pembukuan akan memakan waktu lama terutama bila kuitasi sudah banyak atau diterimanya sudah lama.Sistem penyimpanan kronologis cenderung mengundang pemakaian map ordner sebagai tempat penyimpanan, dan untuk kuitansi biasanya di gunakan map ordner berukuran setengah folio[2].


A.CHEK(CHEQUE)
             Di Amerika Serikat cek-cek yang sudah diuangkan di bank biasanya dikembalikan kepada nasabah sebagai bukti yang disertakan bersama-sama dengan rekening bulanan(bank statement)dari nasabah bersangkutan. Disini bank hanya menyimpan cek-cek bekas untuk sementara sebelum dikembalikan kepada nasabah masing-masing. Cek ini di simpan menurut sistem nomor rekening nasabah. Cek-cek dari satu nasabah akan berkumpul menjadi satu sesuai nomor rekening masing-masing dan mudah mengirimkannya kepada para nasabah bila waktunya sudah tiba. Cek-cek disimpan pada almari khusus dengan laci-laci yang sesuai dengan ukuran cek pada umumnya. Untuk keamanan,laci-laci cek diberi kunci yang menjadi tanggung jawab dari petugas file. Di Indonesia cek-cek yang sudah di uangkan di bank tidak dikembalikan kepada nasabah. Cek-cek tersebut disimpan di dalam buku yang di sebut kasstukken. Buku ini ukurannya cukup besar,hampir sebesar halaman Koran. Sistem penyimpanan cek ini adalah kronologis,yaitu berdasarkan tangggal cek  diuangkan. Dengan demikian cek yang diuangkan pada tanggal yang sama akan berkelompok dan berdekatan. Cek-cek di temple pada halaman-halaman kasstukken,berderet satu per satu. Satu tanggal dapat meliputi beberapa halaman kasstukken,tergantung kepada banyak cek yang diuangkan pada tanggal bersangkutan. Cek-cek yang sudah di tempel ini kemudian oleh pejabat yang berwenang diberi tanda,biasanya garis merah dan paraf,agar cek tersebut tidak disalah gunakan.
             Seperti disebutkan diatas bahwa untuk dapat mencari cek di kasstukken petugas harus mengetahui tanggal cek bersangkutan diuangkan. Kalau tangggal ini sudah diketahui petugas dengan terlebih dahulu melihat rekening Koran,maka pencarian cek di kasstukken akan gampang walaupun masih tetap memakan waktu untuk memilih-milih kasstukken yang memuat cek bersangkutan dan kemudian membolak-balik halaman-halamannya. Apalagi bila cek yang dicari sudah berumur lama,niscaya penemuannya akan memakan waktu lama dan memutuhkan kesabaran.        
             Penemuan seperti di atas niscaya tidak akan mengalami banyak kesukaran bila sistem penyimpanan cek adalah sistem-nomor. Peralatan yang sesuai dengan sistem ini adalah kotak atau laci-laci penyimpanan yang ukurannya sesuai dengan ukuran cek pada umumnya. Bank seyogianya menyediakan almari-almari yang dibuat khusus yang terdiri dari laci-laci yang digunakan untuk penyimpanan cek. Pada penyimanan sistem nomor maka cek-cek dari satu orang atau satu perusahaan akan berkelompok secara kronologis di belakang nomor masing-masing. Sebelum dilakukan pemindahan(transfer) terhadap cek yang sudah sampai umur reetensinya, maka cek-cek tersebut akan menjadi satu sampai bertahun-tahun. Dengan cara ini penemuan kembali akan lebih mudah dilakukan,karena:
1.      Petugas dapat mencari melalui nomor rekening tanpa perlu mengetahui tanggal cek diuangkan, sebab peminta cek niscaya akan melalui nama. Dengan bantuan indeks nama tersebut diketahui nomor rekeningnya.
2.      Letak cek dari satu nama, baik nama orang (individu) maupun nama badan (korporasi),berada pada satu kelomok di bawah nomor rekening masing-masing.
3.      Nomor rekening dapat diketahui melalui alat bantu informasi seperti rekening Koran,buku-buku pembukuan,kartu contoh tanda tangan,slip-slip,buku besar,indeks,dan lain-lain.


C. File Tindak-Lanjut(follow-up)

 Dalam menangani berbagai pekerjaan sehari-hari,sering kali seseorang memerlukan menunda tugas atau menunda penyelesaian sesuatu surat. Ada juga kegiatan yang penyelesaiannya  secara angsuran bulan per bulan atau bahkan tahun per tahun. Jenis pekerjaan yang harus ditunda misalnya keputusan terhadap Surat Permohonan Kredit Bank akan diberikan sesudah rapat pimpinan mengenai masalah kredit. Surat permohonan beserta berkas-berkas lampiran di simpan dulu di follow-up file pada map tanggal surat pemohonan bersangkutan akan dirapatkan. Sesudah surat tersebut selesai diproses,barulah disimpan pada file biasa. Contoh lain adalah kuitansi untuk jenis-jenis pembayaran angsuran. Kantor yang mengelola sistem kredit angsuran ini seyogianya mengelola salah satu sistem file­-nya secara follow-up[3].  
 Follow-up file adalah suatu file yang disusun berdasarkan waktu dengan frekuensi tertentu,misalnya harian,mingguan,atau bulanan,bahkan dapat juga per tahun sesuai keperluan. Kalau yang di simpan pada follow-up file adalahy surat-surat, maka yang di pergunakan adalah laci lemari arsip dengan susunan map menurut tanggal ,mingguan atau bulanan. Kalau yang di simpan adalah formulir (misalnya kuitansi),maka yang di  pergunakan adalah kotak atau map ordner dengan penyekat tanggal,mingguan, atau bulanan yang diperlukan.


D. File Penyimpanan (Arsip Inatif)
           
             Sistem kronologis sering di pergunakan pada penyimpanan arsip inatif. Sebagaimana kita ketahui,Arsip Dinamis adalah arsip-arsip yang masih di pergunakan di perkantoran. Arsip Dinamis terdiri dari arsip arsip aktif dan arsip inatif. Arsip aktif adalah arsip arsip-arsip yang frekuensi pemakaiannya masih tinggi,sedangkan arsip inatif adalah arsip-arsip yang frekuensi pemakaiannya mulai rendah. Arsip aktif biasanya masih disimpan pada unit-unit kerja pengolah,dan arsip inatif (tadinya arsip aktif) biasanya sudah di simpan pada suatu sekretariat atau tata usaha.
     Arsip-arsip inatif dapat disimpan dengan mempergunakan sistem-kronologis, karena:
1.      Arsip sudah kurang dipergunakan,sehingga penemuan yang cepat masih dapat ditawar.
2.      Jumlah arsip sangat banyak,sehingga pengolahannya memerlukan sistem yang mudah.
3.      Perlengkapan dan peralatan yang dipergunakan untuk sistem-kronologis lebih sederhana dan dengan kapasitas yang banyak[4].

Sistem Abjad

            Sistem-sistem penyimpanan yang susunanya  berdasarkan urutan abjad adalah sistem-nama,sistem-geografis,dan sistem-subyek. Sistem penyimpanan yang berdasarkan susunan nomor adalah sistem kronologis dan sistem nomor. Pada umumnya kalau kita mendengar sistem abjad dewasa ini,maka yang dimaksud adalah sistem-abjad-nama.Sistem-nama adalah sama dengan sistem abjad(alphabetical filing system).
            Sistem-abjad adalah sistem penyimpanan dokumen yang berdasarkan urutan abjad dari kata-tangkap(nama)dokumen bersangkutan. Nama dapat terdiri dari 2(dua) yaitu:

1.      Nama Orang
2.      Nama Badan

Nama orang (nama individu)terdiri dari nama-lengkap dan nama-tunggal. Nama badan terdiri dari: 1, nama badan pemerintah,2. Nama badan swasta, 3. Nama organisasi.
Sistem-abjad umumnya dipilih sebagai sistem penyimpanan arsip karena:

1.      Dokumen-dokumen cenderung dicari atau diminta melalui nama.
2.      Petugas menginginkan agar dokumen-dokumen dari nama yang sama,akan berkelompok di bawah satu nama .
3.      Jumlah langganan yang berkomunikasi banyak jumlahnya.
4.      Unit kerja atau sekretaris biasanya hanya menerima dan menyimpan dokumen yang berhubungan dengan fungsi/tugas masing-masing,sehingga isi dokumen lebih cenderung mengenai masalah yang sama (misalnya produksi,keuangan,dan sebagainya). Untuk situasi tersebut susunan nama lebih membantu.
5.      Nama lebih mudah diingat oleh siapa pun.
  

Sistem-abjad adalah sistem penyimpanan yang sederhana dan mudah dalam menemukan dokumen. Dalam mencari dokumen petugas dapat langsung ke file (tempat)penyimpan dan melihat huruf abjad yang di cari. Karena itu sistem-abjad disebut sistem langsung (direct filing system). Sistem-Langsung adalah sistem penyimpanan di mana petugas dapat langsung menuju file penyimpanan dalam usahanya mencari dokumen,tanpa melalui alat bantu indeks misalnya.
Kalau kita memilih sistem abjad sabagai sistem penyimpanan,maka itu berarti bahwa nama merupakan ciri atau identitas penting di dalam pencarian dokumen sesuai dengan kebutuhan dan jenis kegiatan dari unit kerja bersangkutan yang mementingkan soal nama dari pada identitas lain. Berdasarkan hal tersebut maka pencaraian atau permintaan atas dokumen yang diperlukan hendaklah bertitik tolak dari nama koresponden,misalnya:”Tolong carikan data surat PT WARINGIN KENCANA”,”Tolong carikan data pegawai Sukoco Kaltim”,”Tolong carikan surat kita kepadaAdnan Buyung Nasution & associates”. Sesudah menerima permintaan ini,petugas mengira-mengira pada abjad apa map dokumen bersangkutan berada,sesuai dengan indeks dari nama masing-masing yang menjadi label map. Sesuai dengan Peraturan Mengindeks,ketiga dokumen tersebut akan berada di belakang abjad W,K,dan N,sedangkan label map na masing-masing adalah: Waringin Kencana PT,Kaltim Sukoco,dan Nasution Adnan Buyung & Associates[5].

A.     SUSUNAN MAP
           Sering terjadi bahwa surat dari suatu koresponden hanya diterima satu lembar dalam jangka waktu yang lama,misalnya selama periode enam bulan. Koresponden yang suratnya hanya diterima satu kadang-kadang jumlahnya cukup banyak. Di samping itu ada juga koresponden yang komunikasinya berlangsung secara terus menerus. Hal-hal seperti tersebut di atas seharusnya menjadi bahan dalam pertimbangan di dalam menentukan penggunaan map-map pada sistem-abjad.
           Ada tiga cara penggunaan map yang dapat di piih oleh para pengelola arsip yang memilih sistem-abjad sebagai penyimpanan arsipnya. Yang diambil contoh di sini adalah map gantung(hanging folder). Kalau memprgunakan perlatan ini seperti misalnya ordner map,kotak file,atau lainya,maka perlu di sesuaikan. Tiga cara tersebut adalah:


1.      Setiap koresponden (misalnya nama perusahaan)diberi map secara langsung walaupun suratnya baru satu lembar. Pada cari ini pemakaian map memang cukup banyak dan cenderung boros,sebab mungkin saja isi map tersebut tidak akan pernah bertambah. Pada cara ini map-map tersusun berderet menurut abjad. Karena semuanya map gantung,mka tidak memerlukan penyekat. Dengan tidak adanya penyekat maka kita tidak dapat meletakkan guide huruf abjda secara tersendiri; sebagai gantinya guide huruf (A,B,C,dan seterusnya sampai Z)dapat di letakkan pada pinggir atas map yang pertama dari map-map kelompok abjad bersangkutan.
2.      Cara yang kedua adalah bila kita memberlakukan map gantung sebagai map kantong. Dengan sendirinya mempunyai map-kantong dengan label A,B,C,dan seterusnya sampai Z. pada map-kantong A akan di masukan map-dalam(tempat surat) berbagai nama (korespnden) yang termasuk abjad A. Misalnya surat-surat yang berhubungan dengan PT.Adiguna akan kita masukkan dalam map-dalam dengan lebel ADIGUNA,PT. Surat dari dan kepada PT.Astra motor Internasional Inc. akan kita masukan dalam map-dalam dengal lebel ASTRA,PT. Dua map-dalam tersebut kita masukkan dalam map-kantong A.
3.      Cara yang ketiga adalah dengan mempergunakan map-campuran dan map-individu. Map tersebut sebetulnya adalah map-gantung yang dipergunakan sebagai map-campuran dan map-individu adanya map campuran adalah untuk menampung surat-surat yang baru sedikit diterima dari koresponden-koresponden,atas dasar untuk menghemat pemakaian map. Sebab,katanya kalau surat dari satu korsponden atau dua lembar sudah di simpan di map tersendiri akan terjadi pemborosan pemakaian map. Barangkali saja,bertahun-tahun jumlah suratnya hanya itu-itu saja,tidak ada komunikasi-komunikasi kelanjutan.
Map campuran ini adalah map yang berisi campuran surat-surat dari berbagai koresponden di mana jumlah surat masing-masing koresponden belum mencapai 5 lembar. Di sini surat-surat di kelompokkan sesuai nama masing-masing,dan kelompok-kelompok tersebut disusun menurut abjad. Bila ada kelompok yang jumlahnya sudah menjadi 5 lembar,maka kelompok surat dari nama bersangkutan,di keluarkan dari map-map campuran dean di masukkan di dalam map tersendiri.
Map-individu adalah map yang berisi surat-surat dari 1 nama yang di pindahkan dari map-campuran,karena surat-surat tersebut sudah penuh,maka di pergunakan map kedua dengan label nama yang sama, dan di tepatkan di depan dari map lama.

        
SISTEM NOMOR
         Sistem penyimpanan yang berdasarkan kode nomor sebagai pengganti dari nama-orang atau nama-badan disebut sistem-nomor(numberic filing system). Hampir sama dengan sistem-abjad yang penyimpanan warkat didasarkan kepada nama,sistem-nomor pun penyimpanan warkat berdasarkan kepada nama,hanya nama di sini diganti dengan kode nomor. Misalnya surat-surat dari dan kepad PT Waringin Kencana akan disimpan pada map bernomor 271,atau kartu Tabanas Badu di beri nomor 27451. Pada sistem-nomor,maka nomor yang diberikan kepada PT Waringin Kencana ataupun Badu selamanya akan tetap sama dan tidak pernah berubah.
         Banyak perusahaaan atau kantor pemerintah yang mempergunakan penyimpanan sistem-nomor,seperti rumah sakit,asuransi,bank,dan lain-lain. Ada yang mempergunakan sistem-nomor karena memang sudah memahami seluk beluk sistem-nomor termasuk keuntungan dan kerugian penggunaannya. Tetapi banyak pula yang hanya sekedarberanggapan bahwa sistem-nomor lebih mudah mengelolanya di banding dengan sistem-abjad,walaupun kartu atau surat yang disimpan tersebut adalah atas nama individu-individu kemungkinan akan lebih mudah di cari bila susunanya menurut nama.
            Di samping itu,nomor lebih sukar di ingat disbanding dengan nama. Seorang nasabah Tabanas misalnya,akan lebih ingat namanya dibanding dengan nomor Tabanasnya. Untuk mengingat nomor maka dalam sistem-nomor digunakan juga alat bantu yang di sebut indeks,yaitu suatu kartu kecil yang berisikikan nomor dan nama nasabah yang disusun menurut abjad nama nasabah.karena itu sistem-nomor disebut sistem penyimpanan tidak langsng(indirect  filing system[6]).

A.    INDEKS
         Yang dimaksud dengan indeks disini adalah suatu alat bantu untuk mengetahui nomor file yang diberikan kepada sesuatu koresponden atau bila mana nomor bersangkutan tidak diketahui.
Indeks ini disusun secara alfabetis sehingga mudah dicari.sebenarnya indek ini juga dalam bentuk buku,tetapi sukar ditempatkan penambahannya secara alfabetis.karena itu indeks ini dibuat dalam bentuk kartu,sehingga mudah menambahnya dengan kartu kartu baru dengan tetap
memperhatikan susunan abjadnya.
   Setiap koresponden (nama)mempunyai kartu indeks.untuk file kartu maka setiap nama akan langsung dibuatkan indeksnya.sedangkan untuk file surat,kartu indeksnya ada 2 (dua) macam ,yaitu :kartu indeks campuran dan kartu indeks nomor.untuk koresponden yang suratnya baru sedikit (kurang dari 5) maka kartu indeknya belum diberi nomor tetapi baru berupa huruf C,yang merupakan singkatan dari kata campuran.sesudah suratnya berjumlah 5 (lima)maka kartu indeks C diganti nomor dengan yang diambilkan dari buku (register).
     Umumnya kartu indeks terbuat dari kertas karton manila berukuran 12,5 cm panjang dan 7,5 cm lebar.ukuran kotak indeks pun dapat disesuaikan dengan ukuran kartu indeks[7].
\
B.     PROSEDUR PENYIMPANAN
        Langkah-langkah prosedor penyimpanan sistem-nomor hampir sama dengan langkah prosedur penyimpanan sistem abjad,yaitu memeriksa,mengindeks,mengkode,menyortir,dan menempatkan.prosedur ini sama saja baik untuk penyimpanan surat maupun non- surat.bedanya hanya pada peralatan, mislnya pada penyimpanan surat diperlukan map sedangkan pada penyimpanan non-surat (misalnya kartu)tidak memerlukan map.pada penyimpanan yang mempergunakan map diperlukan map campuran untuk surat-surat yang jumlahnya belum lebih dari lima,dan kemudian memberikan map individu bagi koresponden yang jumlah suratnya sudah lima.hal ini tentu saja tidak diperlukan juga pada penyimpanan yang mempergunakan map ordner,misalnya pada penyimpanan kuitansi.
                                    

C.      SUSUNAN PENYIMPANAN
Sistem penyimpanan arsip berdasarkan nomor dapat menggunakan penomoran seri atau berurutan. Sistem ini juga disebut sistem nomor serial atau penomoran berkelanjutan, nomornya dimulai dari 1, 2, 3, dan seterusnya atau dapat juga dimulai dari 1000, 1001, dan seterusnya. Penomoran surat juga merupakan pemberkasan surat secara angka dengan nomor yang berurutan sesuai dengan tempat surat tersebut. Pada sistem nomor berurutan atau langsung, setiap berkas diberi nomor urut. Bila ada nomor yang hilang dalam sebuah berkas, petugas arsip dengan cepat dapat mengetahui nomor yang hilang. Berkas yang disusun menurut nomor urut juga merupakan pemberkasan yang bersifat kronologis, artinya nomor paling akhir merupakan nomor arsip terkini. Perluasan berkas bernomor urut dapat dilakukan dengan mudah, nomor tambahan cukup ditambahkan pada nomor terakhir.

  

















BAB III
PENUTUP


KESIMPULAN:

         Seperti yang kita ketahui banyak macam-macam sistem penyimpanan,seperti sistem-kronologis,sistem-abjad,sistem-nomor.
-Sistem-kronologis merupakan sistem penyusun beras yang dijajar menurut urutan tanggal,mulai dari tanggal sampai dengan tahun.
-Sistem-abjad merupakan sistem pemerkasan yang mengatur arsip dinamis secara abjad,menurut kata demi kata dan huruf.
-Sistem-nomor dalam sistem ini berkas disusun berdasarkan nomor.\
         Saat ini sistem yang paling banyk di gunakan adalah sistem abjad karena sistem-abjad merupakan sistem yang sederhana dan mudah dalam menemukan dokumen. Dalam mencari dokumen petugas dapat langsung ke file penyimpanan. Kalau kita memilih sistem abjad sebagai sistem penyimpanan,maka itu berarti bahwa nama merupakan cirri atau identitas terpending dalam pencarian.
        
          











DAFTAR PUSTAKA
Zulkifli amsyah,manajemen kearsipan,Jakarta,Pt.gramedia pustaka utama,199,hal.76


http://abidzare.wordpress.com/2009/06/23/5-sistem-pengarsipan/






[1] Zulkifli amsyah,manajemen kearsipan,Jakarta,Pt.gramedia pustaka utama,199,hal.76
[2] Loc.cit,hal 78
[3] Loc.cit hlm.80
[4] Loc.cit hlm.81
[5] Loc.cit.hlm 85
[6] http://abidzare.wordpress.com/2009/06/23/5-sistem-pengarsipan/

[7] http://www.scribd.com/doc/46063825/Sistem-Penyimpanan-Arsip-Aktif#download

Tidak ada komentar:

Posting Komentar