Minggu, 02 Desember 2012

cetusan emosi


Ku :Dengan tanda ?
                                         
Ku pilin kembali sedikit demi sedikit harapanku
Ku pilin kembali sisa-sisa kekuatan hati
Ku pilin kembali semua kenangandiantara kita
Ku pilin kembali tetesan air mata kehilangan itu
Ku  ukir kembali rasa yang hampir hilang
Ku ukir kembali rasa kita
Ku ukir kembali …………
Kembali aku ingatkan kembali tentang kita yang dulu selalu bersama dalam tawa, bahkan kita berjanji untuk bersama berjuang merangkai huruf dalam panas, hujan, badai, topan, dan tantangan lainnya. Sempat terukir dibenak kita bahwa huruf  A B C D itu akan terus bertambah hingga huruf  Z, dan sekarang lihatlah mawar huruf-huruf itu kian bertambah dan terus bertambah seperti tetesan hujan dihutan diantara daun-daun kecil  yang menebar kesejukan. Sebagaimana mimpi kita bersama dulu. Tapi setega itukah kau ambil bagian huruf  yang pernah kau sumbangkan? Lalu bagaimana lengkap  huruf kita….???

puisiku


Kemarin: diantarasuaraalamMandiangin

Gemerisik air mengalir di bebatuan cadas
Surya terang di balik singkapan dedaunan yang kecil
Suara burung mengisi keheningan
Alam mengirim suara sayu pada semesta
Rinai embun mulai bergelayut diantara bunga dan daun
Memancarkan kesejukan di antara kilauannya
Sembari menghitung ranting aku bermain dengan alam
Menatap surya di balik daun..
Menghirup aroma embun
Dan mendengarkan suara sayu dari alam
Alam mengisyaratkan sebuah tali yang tersimpul
Simpulan yang takkan pernah aku buat sebelumnya
Namun lewat kealamian simpul itu terikat dengan sendirinya
Bersama helaan nafas dan janjiku di dalam hati
Aku akan tetap meniti hutan dengan segala rintangan
Kokoh adalah kekuatan ku saat ini
Dalam lirih aku berucap


Sabtu, 06 Oktober 2012

NADIA



NADIA
Pagi itu sekitar jam 06.00 saat aku sedang mencuci motor tua peninggalan almarhum ayahku, aku melihat Nadia anak tetanggaku yang sedang tergesa-gesa membuka gembok pagar rumahnya, nampaknya Nadia sedang sakit ketika aku perhatikan wajahnya terlihat pucat, dan bibirnya gemetar. Tapi kalau dia sakit kenapa dia tidak memakai mantel atau jaket tebal, dia malahan memakai jeans belel dengan T-shirt bertuliskan “love is a game” berwarna baby pink, aku coba menanyakan keadaanya.
“kamu dari mana Nad, kok Nampak pucat?” kataku.
Tapi Nadia tak menjawab pertanyaanku, dia membuka pintu pagar dan bergegas masuk rumah, Nadia memang sering tinggal dirumah sendirian, orang tuanya sibuk mengurus perusahaan mereka dan sering pergi keluar kota, terkadang ibuku sering mengajak dia menginap dirumahku dan tidur bersama kakaku yang cewe, tapi kerap kali pula Nadia menolak dengan alasan tidak mau merepotkan ibuku. Dulu waktu aku dan Nadia masih berteman baik Nadia sering berkunjung kerumahku, tapi itu dulu sebelum Nadia mengenal teman-temannya yang gaul dan borju, sekarang Nadia sudah berubah setelah mengenal mereka, Nadia bahkan sering keluar malam dan pulang pagi. Dia sering jadi omongan para tetangga, tapi Nadia tidak perduli dan cuek-cuek saja, ibu dan ayahnya sering menegurnya tapi Nadia berontak dan sering sekali terjadi pertengkaran hebat antara Nadia dan orangtuanya. Bahkan aku pernah mendengar mereka bertengkar dari jendela kamarku, ayah Nadia mencerca Nadia dengan kata-kata yang tak pantas didengar.
Kringgg…..krriiiiiinnggggggg……kriiinngggg….
Bel tanda pelajaran usai berbunyi, seakan memberikan tanda bahwa waktunya santai dirumah, murid-murid berhamburan keluar kelas sambil meneteng tas menuju rumah mereka, dan aku sengaja berjalan dengan santai keluar kelas, aku ingin menengok kelas Nadia, biasanya hari selasa dikelas Nadia ada pelajaran tambahan, kalo dikelas aku hari senin setelah pulang sekolah. Kelas aku dan Kelas Nadia terpisah beberapa kelas saja, setelah aku melewati kelas Nadia aku melihat bapa Mamad yang dijuluki bapa intimidasi oleh murid-murid sedang menjelaskan pelajaran Matematika dengan tegang dan serius, tapi aku tak melihat Nadia, bangku yang biasa Nadia duduki hari ini kosong, aku mulai melirik ke penjuru kelas dengan hati-hati agar bapa Mamat tidak melihat gerak-gerikku, Tapi hasilnya nihil Nadia tidak duduk disudut mana pun. Mungkin Nadia benar-benar sakit.
            Kemudian aku berjalan meninggalkan kelas Nadia, sesampai aku diteras sekolah ternyata hujan turun membasahi bumi, dan aku kemilih untuk berteduh dulu diteras sekolah sambil memandang tiap tetesan hujan pikiranku melayang, memikirkan saat-saat aku masih bersahabat baik dengan Nadia. Aku masih ingat saat Nadia memukul anjing tetangga komplek sebelah dengan kayu karena anjing itu mengejarku sewktu aku pulang dari sekolah, dan mulai hari itu kami berteman dan sering bermain bersama, Nadia teman pertama aku sewaktu SMP dulu saat teman-teman aku yang lain mengejekku dan mengata-ngatai aku cupu, namun Nadia malah dengan santai mau berteman dengan aku, dan mengajari aku membuat layang-layang, untuk pertama kalinya aku bisa membuat layang-layang hari itu. Nadia anak perempuan yang bisa aku bilang tomboy dan cuek dengan penampilan, aku pernah melihat Nadia bermain bola dengan anak laki-laki dalam keadaan masih memakai baju piyama.
            “kamu kenapa melamun jonn..?” tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku. Ternyata itu adalah suara Rania salah satu anak culun yang ada disekolah ini, dan Rania ini satu kelas sama Nadia. “eh, kamu Ra..hhmmphh…Nadia hari ini engga masuk sekolah ya?”. Mumpung ada teman satu kelas Nadia sekalian aja aku tanyain, meskipun aku tau kalau Rania akan menjawab dengan jawaban lebih banyak tidak tau ketimbang taunya. “bukan Cuma hari ini jon, Nadia tidak masuk sekolah tapi sudah satu minggu dia absen dan tidak ada kabarnya” kata Rania. Ucapan Rania mengagetkan aku sebenarnya apa yang terjadi dengan Nadia, semenjak dia berteman dengan “genk cubietus”, sebuah genk anak-anak gaul yang hobby menghambur-hamburkan uang orang tua mereka untuk hal-hal yang sama sekali tidak penting, tiap malam kerjaannya clubbing di discotik bintang lima, dan teman-teman seperti itu lah yang dijadikan Nadia sahabatnya.
            Setelah berbasa-basi sedikit dengan Rania, aku pamit untuk pulang duluan. Sambil mengendarai motorku rintik-rintik hujan kecil menetes membasahi kaca helmku. Aku masih berfikir didalam benakku kenapa Nadia tidak kesekolah selama satu minggu. Dan aku putuskan hari ini aku akan kerumah Nadia untuk mengetahui kondisinya, meskipun resikonya dia akan mengusir aku sama kaya seperti dulu. Aku bahkan tidak pernah lupa kata-kata yang Nadia ucapkan waktu aku kerumahnya untuk menengoknya yang sedang sakit, “ngapain loe ke rumah gue?dasar anak culun gak gaul,keluar loe sekarang” kalau kata-kata itu aku ingat rasanya bulu kudukku meremang. Aku tidak mengerti sebenarnya apa salah aku?, apa hanya karna aku culun dengan kacamata besar dan tebal? Mungkin Nadia malu berteman dengan aku, aku sadar semua kekurangan aku dan mungkin Nadia pikir aku tidak selevel dengan Nadia yang cantik.
            Tanpa aku sadari aku sudah memasuki gerbang komplek perumahanku setelah tikungan, aku akan sampai dirumah, namun tiba-tiba sebuah mobil polisi dengan sirine yang mengaum-ngaum memecah keheningan jalanan di sekitar komplek rumahku, dengan kecepatan tinggi mobil polisi itu memasuki tikungan menuju rumahku. Karna rasa penasaran aku pun ikut memacu motor tuaku memasuki tikungan rumahku.
            Dan betapa terkejutnya aku melihat kenyataan ini, ternyata mobil polisi itu berhenti dirumah Nadia yang bersampingan dengan rumahku, tak hanya mobil polisi tetapi juga ambulance juga berhenti dan parkir dihalaman rumahku, rumah Nadia digerumungi oleh tetangga yang penasaran dengan apa yang terjadi disana, kemudian aku melihat ibuku yang sedang berbicara dengan polisi, aku melihat raut wajah ibu nampak kebingungan. Dengan cepat aku parkirkan motorku di samping rumah dan berlari kerumah Nadia. “jam berapa ibu ke rumah Nadia?” kata seorang polisi kepada ibu, kemudian ibu menjawab “jam 12 siang pak, saat saya ingin mengantarkan makanan untuk Nadia, karna dia cuma sendiri dirumah” kata ibu menjawab pertanyaan polisi. Tidak beberapa lama kemudian aku melihat petugas rumah sakit membawa tandu yang berisi tubuh yang di tutup dengan sprey berwarna putih. Ibu memelukku sambil menangis, saat itu aku masih kebingungan sebenarnya apa yang sedang terjadi, sesaat berlalu ambulance yang membawa mayat itu pergi meninggalkan komplek kami menuju rumah sakit.
            Keramaian dirumah Nadia mulai sepi saat mobil ambulance dan mobil polisi meninggalkan rumah Nadia, dan aku membawa ibu pulang untuk menenangkan kondisi ibu. Setelah ibu mulai tenang ibu bercerita, dan betapa terkejutnya aku saat mendengar semua cerita ibu yang siang itu ingin mengantarkan sub jagung untuk Nadia, dan sewaktu mengetuk pintu ternyata tidak ada sahutan dari dalam, dan saat itu ibu memberanikan diri untuk membuka pintu rumah Nadia ternya tidak dikunci. Ibu berfikir bahwa Nadia sedang tidur dikamar dan ibu bermaksud untuk membangunkan Nadia. Ketika ibu membuka kamar Nadia, ibu melihat Nadia membujur kaku dengan busa dibagian mulut, di sekitar Nadia berhamburan obat-obatan, segeralah ibu menelpon polisi.
            Keesokan harinya pukul 07.00 iring-iringan ambulance datang kembali, kali ini ambulan datang dengan iringan mobil mewah yang aku bisa tebak itu adalah mobil keluarga Nadia. Nampak sebuah peti berwarna merah marun diturunkan dari mobil ambulace, di sertai tangisan histeris seorang wanita yang kira-kira berusia 35 tahun, itu adalah ibu Nadia. Aku, ibu, dan kakaku bergegas kerumah duka untuk mengucapkan rasa duka, ibu Nadia dalam tangisnya bercerita bahwa Nadia OD (over dosis) karna mengonsumsi obat tidur, selain itu juga hasil outopsi membuktikan bahwa Nadia mengonsumsi Narkoba. Ibu Nadia meminta kami untuk menyembunyikan kematian Nadia yang bunuh diri tapi aku rasa semua tetangga tau melihat kenyataan yang ada. Para tetangga, teman-teman sekolah Nadia mulai berdatangan untuk memberi penghormatan terakhir pada Nadia. Pukul 14.00 jasad Nadia dimakamkan dipemakaman umum dikomplek kami. Suasana pekat duka dan haru melepas kepergian Nadia, bahkan ibu Nadia sampai jatuh pingsan saat jasad Nadia dimasukkan kedalam tanah,.
             Sehari setelah pemakaman Nadia keluarga  Nadia memutuskan ppindah rumah dan menjual rumah mereka dengan alasan, mereka ingin mengganti suasana baru, ibu Nadia juga kerap kali merasa Nadia berjalan-jalan dirumah mereka, hal itu membuat ibu Nadia kembali bersedih. Kematian Nadia secara tiba-tiba memang membuat semua orang yang mengenal Nadia shyok, kematian Nadia yang terbilang cukup muda membuatku semakin sadar untuk betapa bermaknanya hidup ini, jika hanya untuk hura-hura. Perjalanan hidup msih panjang bahkan jalan kesuksesan dalam hidup belum aku tapaki. Nadia akan tetap aku kenang sebagai sosok teman dimasa kecil yang istimewa, meskipun ketika kami sama-sama besar Nadia menjauhiku, tapi aku tetap menganggap dia temanku. Sebenarnya Nadia adalah anak yang baik hanya saja pergaulan membuat dia tersesat dan tak bisa menemukan jalannya kembali.
Nadia terima kasih atas kebaikanmu dimasa kecil kita…
            Semoga kamu damai disana….

cerita sedikit....


Kakak aku bernama Rina Faradilla, saat ini sedang menempuh pendidikan disalah satu perguruan Tinggi Negri di Banjarmasin, suatu hari dia menceritakan tentang pengalaman dia dikampus yang sampai sekarang aku masih sangat aku ingat, jadi seperti ini ceritanya. Waktu itu kakak aku baru masuk ke kampusnya sebagai mahasiswi baru karena jauh dari rumah dia memilih untuk tinggal diasrama yang disediakan oleh kampusnya, dan dia masuk dikamar no dua, dengan teman-teman baru yang tidak pernah dia kenal sebelumnya, ternyata dikamar no dua dia bertemu dengan kakak Resti dan kakak Mujenah, kakakku bilang teman-teman kakakku ini memiliki sifat yang berbeda, kakak Resti orangnya rada-rada pendiam dan cuek, kalau kakak Mujenah orang na lucu dan ramah, kakak aku bilang bahwa dia menganggap mereka sahabat, namanya juga sekamar pasti semuanya dilakuin sama-sama. Hampi satu tahun mereka lalui bareng-bareng mulai dari antri mandi, antri masak, antri wudhu, sampai dihukum pun dilakuin sama-sama. Kakak aku juga pernah cerita kalau dia juga sering bertengkar dengan sahabat-sahabatnya itu padahal yang dipertengkarkan cuma masalah sepele.
Suatu hari sewaktu  kakak aku pulang kerumah dihari sabtu dia cerita ke aku dan ibu kalau dia mau ikut lomba Musikalisasi Puisi yang diadain dikampusnya, kata kakak aku “kakak mau ikut lomba Musikalisasi puisi, sama tiga orang teman kakak namanya Duan, Rizka, dan Fia” waktu itu kakak aku cerita sambil kami menyantap makan siang dirumah kami yang mungil. Aku terkejut dan bertanya sama kakak aku, “gimana Musikalisasi puisi itu kak?” aku baru dengar sebenarnya dan saat itu mulailah kakak aku menjelaskan panjang lebar tentang Musikalisasi Puisi, ternyata Musikalisasi Puisi itu adalah Puisi yang dijadiin lirik lagu dan dibaca juga puisinya, tapi kakak aku juga bilang ada juga yang mengatakan bahwa musikalisasi puisi itu puisi yang dibacakan sambil di iringi lagu. Kakak aku memang suka sekali membaca puisi dari dia SD sudah mulai membaca puisi, meskipun sering kalah tapi nampaknya dia tetap konsisten sama kecintaan dia terhadap puisi.
Seminggu kemudian kakak aku pulang kerumah dalam keadaan suara serak dan batuk yang cukup parah, aku dan ibu terkejut melihat kondisi kakak aku yang hampir tidak terdengar kalau ngomong, kemudian ditannya sama ibu, “Rina..kenapa suara kamu?” kata ibu. Kemudian dengan suara serak kakak aku menjawab “suara aku hilang bu, gara-gara kebanyakan minum es dan makan sambel pedas, sebelum lomba udah mulai radang tenggorokan, dan menjelang lomba di paksa latihan sampai lomba, untungnya alhamdulillah dapat juara satu,dan bisa masuk k tingkat selanjutnya bu..” kata kakak aku dengan suara yang hampir hilang seperti diterbangkan oleh angin. Ibu sangat kaget dan sangat khawatir, terlihat sekali dari raut muka ibu, kemudian ibu berkata “ya, sudah kalau begitu malam ini kita ke Dr.Deny Margono” kata ibu pada kakak.
Sehabis magrib pergilah ibu dan kakak kedokter, dan aku memilih untuk menunggu dirumah saja sambil mengerjakan tugas Matematika yang besok harus aku kumpul. Sekitar setengah jam ibu dan kakak pulang kerumah dan aku membukakan pintu untuk mereka, kemudian aku bertanya “bagaimana bu, kondisi kakak?”aku juga sempat khawatir terhadap kondisi kakak, kemudian ibu cerita “kata dokter tidak boleh terlalu banyak bicara karena peradangan pada pita suara, dan untuk sementara waktu jangan latihan puisi dulu, dan harus banyak minum air putih” sekilas aku melihat wajah kakak aku yang nampak sedih. “padahal 3 minggu lagi aku mau ikut lomba musikalisasi puisi tahap II” kata kakakku, kasian kakak aku suaranya kaya gitu, pasti akan sangat terganggu, sambil merenung aku semakin sadar bahwa suara merupakan hal penting dalam berbagai aktifitas. Kemudian ibu berkata “sabar aja dulu, semoga saja dalam waktu satu minngu suara kamu kembali pulih, asal minum obat yang teratur, dan banyak-banyak minum air putih” kata ibu sambil menasehati kakak.
Minggu sore kakak kembali ke Banjarmasin dengan kendaraan Spin Merah yang kaka beri nama “merah”, dengan plastik-plastik yang penuh rantang berisi makanan aku melihat raut semangat diwajah kakakku, meskipun suara kakak belum sembuh, aku rasa kakak memiliki semangat baru buat kembali beraktifitas dihari senin. Aku dan ibu berdiri diteras rumah melihat kakak pergi ke Banjarmasin untuk menuntut ilmu meskipun jauh dari kami. Semangat kakak seakan menular ke aku bahwa dimanapun kita menuntut ilmu kita harus tetap semangat, memegang teguh tanggung jawab dan kepercayaan dari ibu. Perlahan kakak menghilang ditikungan jalan rumah kami, “selamat jalan kak. Semoga sukses di sana” ucapku didalam hati.
Satu minggu kemudian kakak menelpon ibu, dan bercerita bahwa satu minggu lagi akan mengikuti lomba Musikalisasi Puisi, dan tidak bisa pulang ke Banjarbaru. “tapi bagaimana dengan suara kamu Rina, apakah masih radang?” kata ibu bertanya melalui telepon, ibu terdiam sebentar mendengarkan jawaban dari kakak. Kemudian ibu berkata lagi “syukur kalau sudah bisa membaca puisi, tapi ingat tetap jangan terlalu diporsir” kata ibu menasehati kakak. Dapat aku ambil kesimpulan bahwa suara kakak membaik dengan pesat.
Hampir tiga minggu kakak tidak menginap, kalau pulang paling datang sebentar lalu kembali lagi ke Banjarmasin, setelah beberapa hari kakak tidak pulang, pada malam minggu aku sedang asik membaca buku tiba-tiba masuk sebuah pesan dari kakak:
From: kakak Rina
De..kakak malam ini lomba Musikalisasi Puisi, doa’in biar menang, klo kakak menang kmu kakak kasih hadiah…^_^
Dengan semangat aku balas pesan kakak dengan serangkaian doa, semoga kakak sukses lomba malam ini, tepat pukul 22.05 ibu mendapat sms dari ibu kalau kakak sudah selesai lombanya dan kakak bercerita bahwa sewaktu dia membaca ada wartawan dari stasiun daerah yang mewawancarai kakak dan teman-temannya. Mendengar itu aku bangga sama kakak, perjuangan kakak yang tak sia-sia, dari mulai suara yang hilang sampai tidak menikmati libur sabtu minggu dirumah demi latihan Musikalisasi Puisi setiap hari. Sebuah perjuangan yang tidak sia-sia apalagi seletelah aku melihat dengan mata kepala sendiri kakak masuk TV daerah dan diwawancarai. Cerita kakakku ini memberikan aku insfirasi dan motivasi buat aku untuk terus berjuang meraih kesuksesan dalam hidup, dengan menjunjung tinggi kepercayaan ibu dan terus berjuang dalam melawan kerasnya persaingan didalam kehidupan. Menjalani kewajiban sebagai Hamba Allah adalah petunjuk untuk menuju jalan lurus sebuah kesuksesan dalam hidup dan akhiratku kelak.