Sabtu, 06 Oktober 2012

cerita sedikit....


Kakak aku bernama Rina Faradilla, saat ini sedang menempuh pendidikan disalah satu perguruan Tinggi Negri di Banjarmasin, suatu hari dia menceritakan tentang pengalaman dia dikampus yang sampai sekarang aku masih sangat aku ingat, jadi seperti ini ceritanya. Waktu itu kakak aku baru masuk ke kampusnya sebagai mahasiswi baru karena jauh dari rumah dia memilih untuk tinggal diasrama yang disediakan oleh kampusnya, dan dia masuk dikamar no dua, dengan teman-teman baru yang tidak pernah dia kenal sebelumnya, ternyata dikamar no dua dia bertemu dengan kakak Resti dan kakak Mujenah, kakakku bilang teman-teman kakakku ini memiliki sifat yang berbeda, kakak Resti orangnya rada-rada pendiam dan cuek, kalau kakak Mujenah orang na lucu dan ramah, kakak aku bilang bahwa dia menganggap mereka sahabat, namanya juga sekamar pasti semuanya dilakuin sama-sama. Hampi satu tahun mereka lalui bareng-bareng mulai dari antri mandi, antri masak, antri wudhu, sampai dihukum pun dilakuin sama-sama. Kakak aku juga pernah cerita kalau dia juga sering bertengkar dengan sahabat-sahabatnya itu padahal yang dipertengkarkan cuma masalah sepele.
Suatu hari sewaktu  kakak aku pulang kerumah dihari sabtu dia cerita ke aku dan ibu kalau dia mau ikut lomba Musikalisasi Puisi yang diadain dikampusnya, kata kakak aku “kakak mau ikut lomba Musikalisasi puisi, sama tiga orang teman kakak namanya Duan, Rizka, dan Fia” waktu itu kakak aku cerita sambil kami menyantap makan siang dirumah kami yang mungil. Aku terkejut dan bertanya sama kakak aku, “gimana Musikalisasi puisi itu kak?” aku baru dengar sebenarnya dan saat itu mulailah kakak aku menjelaskan panjang lebar tentang Musikalisasi Puisi, ternyata Musikalisasi Puisi itu adalah Puisi yang dijadiin lirik lagu dan dibaca juga puisinya, tapi kakak aku juga bilang ada juga yang mengatakan bahwa musikalisasi puisi itu puisi yang dibacakan sambil di iringi lagu. Kakak aku memang suka sekali membaca puisi dari dia SD sudah mulai membaca puisi, meskipun sering kalah tapi nampaknya dia tetap konsisten sama kecintaan dia terhadap puisi.
Seminggu kemudian kakak aku pulang kerumah dalam keadaan suara serak dan batuk yang cukup parah, aku dan ibu terkejut melihat kondisi kakak aku yang hampir tidak terdengar kalau ngomong, kemudian ditannya sama ibu, “Rina..kenapa suara kamu?” kata ibu. Kemudian dengan suara serak kakak aku menjawab “suara aku hilang bu, gara-gara kebanyakan minum es dan makan sambel pedas, sebelum lomba udah mulai radang tenggorokan, dan menjelang lomba di paksa latihan sampai lomba, untungnya alhamdulillah dapat juara satu,dan bisa masuk k tingkat selanjutnya bu..” kata kakak aku dengan suara yang hampir hilang seperti diterbangkan oleh angin. Ibu sangat kaget dan sangat khawatir, terlihat sekali dari raut muka ibu, kemudian ibu berkata “ya, sudah kalau begitu malam ini kita ke Dr.Deny Margono” kata ibu pada kakak.
Sehabis magrib pergilah ibu dan kakak kedokter, dan aku memilih untuk menunggu dirumah saja sambil mengerjakan tugas Matematika yang besok harus aku kumpul. Sekitar setengah jam ibu dan kakak pulang kerumah dan aku membukakan pintu untuk mereka, kemudian aku bertanya “bagaimana bu, kondisi kakak?”aku juga sempat khawatir terhadap kondisi kakak, kemudian ibu cerita “kata dokter tidak boleh terlalu banyak bicara karena peradangan pada pita suara, dan untuk sementara waktu jangan latihan puisi dulu, dan harus banyak minum air putih” sekilas aku melihat wajah kakak aku yang nampak sedih. “padahal 3 minggu lagi aku mau ikut lomba musikalisasi puisi tahap II” kata kakakku, kasian kakak aku suaranya kaya gitu, pasti akan sangat terganggu, sambil merenung aku semakin sadar bahwa suara merupakan hal penting dalam berbagai aktifitas. Kemudian ibu berkata “sabar aja dulu, semoga saja dalam waktu satu minngu suara kamu kembali pulih, asal minum obat yang teratur, dan banyak-banyak minum air putih” kata ibu sambil menasehati kakak.
Minggu sore kakak kembali ke Banjarmasin dengan kendaraan Spin Merah yang kaka beri nama “merah”, dengan plastik-plastik yang penuh rantang berisi makanan aku melihat raut semangat diwajah kakakku, meskipun suara kakak belum sembuh, aku rasa kakak memiliki semangat baru buat kembali beraktifitas dihari senin. Aku dan ibu berdiri diteras rumah melihat kakak pergi ke Banjarmasin untuk menuntut ilmu meskipun jauh dari kami. Semangat kakak seakan menular ke aku bahwa dimanapun kita menuntut ilmu kita harus tetap semangat, memegang teguh tanggung jawab dan kepercayaan dari ibu. Perlahan kakak menghilang ditikungan jalan rumah kami, “selamat jalan kak. Semoga sukses di sana” ucapku didalam hati.
Satu minggu kemudian kakak menelpon ibu, dan bercerita bahwa satu minggu lagi akan mengikuti lomba Musikalisasi Puisi, dan tidak bisa pulang ke Banjarbaru. “tapi bagaimana dengan suara kamu Rina, apakah masih radang?” kata ibu bertanya melalui telepon, ibu terdiam sebentar mendengarkan jawaban dari kakak. Kemudian ibu berkata lagi “syukur kalau sudah bisa membaca puisi, tapi ingat tetap jangan terlalu diporsir” kata ibu menasehati kakak. Dapat aku ambil kesimpulan bahwa suara kakak membaik dengan pesat.
Hampir tiga minggu kakak tidak menginap, kalau pulang paling datang sebentar lalu kembali lagi ke Banjarmasin, setelah beberapa hari kakak tidak pulang, pada malam minggu aku sedang asik membaca buku tiba-tiba masuk sebuah pesan dari kakak:
From: kakak Rina
De..kakak malam ini lomba Musikalisasi Puisi, doa’in biar menang, klo kakak menang kmu kakak kasih hadiah…^_^
Dengan semangat aku balas pesan kakak dengan serangkaian doa, semoga kakak sukses lomba malam ini, tepat pukul 22.05 ibu mendapat sms dari ibu kalau kakak sudah selesai lombanya dan kakak bercerita bahwa sewaktu dia membaca ada wartawan dari stasiun daerah yang mewawancarai kakak dan teman-temannya. Mendengar itu aku bangga sama kakak, perjuangan kakak yang tak sia-sia, dari mulai suara yang hilang sampai tidak menikmati libur sabtu minggu dirumah demi latihan Musikalisasi Puisi setiap hari. Sebuah perjuangan yang tidak sia-sia apalagi seletelah aku melihat dengan mata kepala sendiri kakak masuk TV daerah dan diwawancarai. Cerita kakakku ini memberikan aku insfirasi dan motivasi buat aku untuk terus berjuang meraih kesuksesan dalam hidup, dengan menjunjung tinggi kepercayaan ibu dan terus berjuang dalam melawan kerasnya persaingan didalam kehidupan. Menjalani kewajiban sebagai Hamba Allah adalah petunjuk untuk menuju jalan lurus sebuah kesuksesan dalam hidup dan akhiratku kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar