Kakak
aku bernama Rina Faradilla, saat ini sedang menempuh pendidikan disalah satu
perguruan Tinggi Negri di Banjarmasin, suatu hari dia menceritakan tentang
pengalaman dia dikampus yang sampai sekarang aku masih sangat aku ingat, jadi
seperti ini ceritanya. Waktu itu kakak aku baru masuk ke kampusnya sebagai mahasiswi
baru karena jauh dari rumah dia memilih untuk tinggal diasrama yang disediakan
oleh kampusnya, dan dia masuk dikamar no dua, dengan teman-teman baru yang tidak
pernah dia kenal sebelumnya, ternyata dikamar no dua dia bertemu dengan kakak
Resti dan kakak Mujenah, kakakku bilang teman-teman kakakku ini memiliki sifat
yang berbeda, kakak Resti orangnya rada-rada pendiam dan cuek, kalau kakak
Mujenah orang na lucu dan ramah, kakak aku bilang bahwa dia menganggap mereka
sahabat, namanya juga sekamar pasti semuanya dilakuin sama-sama. Hampi satu
tahun mereka lalui bareng-bareng mulai dari antri mandi, antri masak, antri
wudhu, sampai dihukum pun dilakuin sama-sama. Kakak aku juga pernah cerita
kalau dia juga sering bertengkar dengan sahabat-sahabatnya itu padahal yang
dipertengkarkan cuma masalah sepele.
Suatu
hari sewaktu kakak aku pulang kerumah
dihari sabtu dia cerita ke aku dan ibu kalau dia mau ikut lomba Musikalisasi
Puisi yang diadain dikampusnya, kata kakak aku “kakak mau ikut lomba
Musikalisasi puisi, sama tiga orang teman kakak namanya Duan, Rizka, dan Fia”
waktu itu kakak aku cerita sambil kami menyantap makan siang dirumah kami yang
mungil. Aku terkejut dan bertanya sama kakak aku, “gimana Musikalisasi puisi
itu kak?” aku baru dengar sebenarnya dan saat itu mulailah kakak aku
menjelaskan panjang lebar tentang Musikalisasi Puisi, ternyata Musikalisasi
Puisi itu adalah Puisi yang dijadiin lirik lagu dan dibaca juga puisinya, tapi
kakak aku juga bilang ada juga yang mengatakan bahwa musikalisasi puisi itu
puisi yang dibacakan sambil di iringi lagu. Kakak aku memang suka sekali
membaca puisi dari dia SD sudah mulai membaca puisi, meskipun sering kalah tapi
nampaknya dia tetap konsisten sama kecintaan dia terhadap puisi.
Seminggu
kemudian kakak aku pulang kerumah dalam keadaan suara serak dan batuk yang
cukup parah, aku dan ibu terkejut melihat kondisi kakak aku yang hampir tidak
terdengar kalau ngomong, kemudian ditannya sama ibu, “Rina..kenapa suara kamu?”
kata ibu. Kemudian dengan suara serak kakak aku menjawab “suara aku hilang bu,
gara-gara kebanyakan minum es dan makan sambel pedas, sebelum lomba udah mulai
radang tenggorokan, dan menjelang lomba di paksa latihan sampai lomba,
untungnya alhamdulillah dapat juara satu,dan bisa masuk k tingkat selanjutnya
bu..” kata kakak aku dengan suara yang hampir hilang seperti diterbangkan oleh angin.
Ibu sangat kaget dan sangat khawatir, terlihat sekali dari raut muka ibu,
kemudian ibu berkata “ya, sudah kalau begitu malam ini kita ke Dr.Deny Margono”
kata ibu pada kakak.
Sehabis
magrib pergilah ibu dan kakak kedokter, dan aku memilih untuk menunggu dirumah
saja sambil mengerjakan tugas Matematika yang besok harus aku kumpul. Sekitar
setengah jam ibu dan kakak pulang kerumah dan aku membukakan pintu untuk
mereka, kemudian aku bertanya “bagaimana bu, kondisi kakak?”aku juga sempat
khawatir terhadap kondisi kakak, kemudian ibu cerita “kata dokter tidak boleh
terlalu banyak bicara karena peradangan pada pita suara, dan untuk sementara
waktu jangan latihan puisi dulu, dan harus banyak minum air putih” sekilas aku
melihat wajah kakak aku yang nampak sedih. “padahal 3 minggu lagi aku mau ikut
lomba musikalisasi puisi tahap II” kata kakakku, kasian kakak aku suaranya kaya
gitu, pasti akan sangat terganggu, sambil merenung aku semakin sadar bahwa
suara merupakan hal penting dalam berbagai aktifitas. Kemudian ibu berkata “sabar
aja dulu, semoga saja dalam waktu satu minngu suara kamu kembali pulih, asal
minum obat yang teratur, dan banyak-banyak minum air putih” kata ibu sambil
menasehati kakak.
Minggu
sore kakak kembali ke Banjarmasin dengan kendaraan Spin Merah yang kaka beri
nama “merah”, dengan plastik-plastik yang penuh rantang berisi makanan aku
melihat raut semangat diwajah kakakku, meskipun suara kakak belum sembuh, aku
rasa kakak memiliki semangat baru buat kembali beraktifitas dihari senin. Aku dan
ibu berdiri diteras rumah melihat kakak pergi ke Banjarmasin untuk menuntut
ilmu meskipun jauh dari kami. Semangat kakak seakan menular ke aku bahwa dimanapun
kita menuntut ilmu kita harus tetap semangat, memegang teguh tanggung jawab dan
kepercayaan dari ibu. Perlahan kakak menghilang ditikungan jalan rumah kami, “selamat
jalan kak. Semoga sukses di sana” ucapku didalam hati.
Satu
minggu kemudian kakak menelpon ibu, dan bercerita bahwa satu minggu lagi akan
mengikuti lomba Musikalisasi Puisi, dan tidak bisa pulang ke Banjarbaru. “tapi
bagaimana dengan suara kamu Rina, apakah masih radang?” kata ibu bertanya
melalui telepon, ibu terdiam sebentar mendengarkan jawaban dari kakak. Kemudian
ibu berkata lagi “syukur kalau sudah bisa membaca puisi, tapi ingat tetap
jangan terlalu diporsir” kata ibu menasehati kakak. Dapat aku ambil kesimpulan
bahwa suara kakak membaik dengan pesat.
Hampir
tiga minggu kakak tidak menginap, kalau pulang paling datang sebentar lalu
kembali lagi ke Banjarmasin, setelah beberapa hari kakak tidak pulang, pada
malam minggu aku sedang asik membaca buku tiba-tiba masuk sebuah pesan dari
kakak:
From:
kakak Rina
De..kakak
malam ini lomba Musikalisasi Puisi, doa’in biar menang, klo kakak menang kmu
kakak kasih hadiah…^_^
Dengan
semangat aku balas pesan kakak dengan serangkaian doa, semoga kakak sukses
lomba malam ini, tepat pukul 22.05 ibu mendapat sms dari ibu kalau kakak sudah
selesai lombanya dan kakak bercerita bahwa sewaktu dia membaca ada wartawan
dari stasiun daerah yang mewawancarai kakak dan teman-temannya. Mendengar itu
aku bangga sama kakak, perjuangan kakak yang tak sia-sia, dari mulai suara yang
hilang sampai tidak menikmati libur sabtu minggu dirumah demi latihan
Musikalisasi Puisi setiap hari. Sebuah perjuangan yang tidak sia-sia apalagi
seletelah aku melihat dengan mata kepala sendiri kakak masuk TV daerah dan
diwawancarai. Cerita kakakku ini memberikan aku insfirasi dan motivasi buat aku
untuk terus berjuang meraih kesuksesan dalam hidup, dengan menjunjung tinggi
kepercayaan ibu dan terus berjuang dalam melawan kerasnya persaingan didalam
kehidupan. Menjalani kewajiban sebagai Hamba Allah adalah petunjuk untuk menuju
jalan lurus sebuah kesuksesan dalam hidup dan akhiratku kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar