Lorong sunyi menyapa kalbu
Berirama dengan suara riang
Memutar kembali waktu yang hilang
Lalu mendesah dengan nafas panjang
Bayang semu kau ukir diatas air
Sementara sajak tak henti melolong
Didekap erat sang sunyi
Mengantar pada tusukan irama datar
Kukatakan pada sajak air
Bahwa rindu hanya lanting yang lewat
Dan cinta ibarat daun yang dijatuhkan angin
sementara kau seperti sajakku..
dan masih menjadi sajakku...
Setiap detik yang terbang
bertengger pada pagar rindu
Meneteskan embun kasih pada sehelai rumput
Dan menunggu waktu cepat berlalu
ohhh..
Sajak rindu penghilang mantra
Bisakah kau hadir dalam ucapan menit yang lewat
Lalu mendekap selimut kasih yang tak usai
Mungkin, kita hanya sedikit dari lebah yang hilang
Terganti dengan sayap kup-kupu yang indah
Hingga tak bisa diraba angin
Sabtu, 30 November 2013
Kamis, 31 Oktober 2013
TUA
Toples itu masih berirama gentar
Kaleng itu masih berbunyi halilintar
Suara tapak kaki masih bernyanyi ragu
Menafsirkan kesunyian dalam dinding lampau
Lalu hilang dimakan senja.
Pak renta...
“apakah kau masih bermain di hari tuamu?”
Sementara senja meniti di ufuk malam
Bu renta..
“bagaimana kau berjalan diarus hening?”
Padahal kakimu mulai reot
Keheningan membalut kalbu
Bermandikan sunyi dalam kegelapan malam
Tanpa suara, raga mulai kaku, nafas mulai hilang dan lalu
hilang
Meninggalkan udara yang lengang
Minggu, 13 Oktober 2013
~Lara Asa~
Menangisi
malam yang takkan cepat berlalu
Kau dan aku
takkan pernah mengerti
Ini tentang
sebuah nestapa
Yang hadir
melalui deretan nafas panjang
Menghempaskan asa yang tersisa
Lalu luluh dimakan jingga pagi
Sajak embun mempertegas semua
Tentang hati yang beranjak pergi
Kau..!!
Pantaskah aku
berbicara tentang hati
Yang berharap
semilir sejuk nafas panjang
Lalu, apakah kau
menyadari
Tentang jiwa yang
tertusuk lalu mati
Dan kini bersiap
untuk pergi
Lelah nafas bersandiwara
Tapi kau tak jua mengerti
tentang rasa
Yang memiliki banyak asa
Tega nian kau bersahaja
Dalam jiwa tanpa dosa
Banjarbaru, 13 okt 2013
Senin, 23 September 2013
Hukum KERTAS
lalang-lalang kertas menari
tersenyum-menangis
berbicara dalam kebisuan
hening...
Menjawab-lalu membisu
berserakan disana-sini
sebuah kertas usang
tanpa arti
namun berlaku
selalu,....
bisa dijual
membawa uang
memberikan harta
namun banyak membawa duka
menangis, berteriak,meraung
kertas bersayap terbang keangkasa
beling-beling semu
memampangkan-kertas putih
sementara, cermin fatamorgana
berkata jujur-kertas hitam
Hey pembuat hitam!!!
pantaskah aku marah
merobek kertas hitam
lalu mencoret kertas putih
sementara kau melindungi mereka
mengaku suci padahal ikut mencuri
Insang: Aku
Senja jingga menapaki hari
bercengkrama dengan para pengumpul ikan
perahu mereka tak goyah walau gelombang menghantam
jala mereka takkan robek meski ikan menari disana
Di ujung pantai nampak sang mata rapuh berdiri
menanti sosok pengumpul ikan kembali
kura-kura kecil berjalan dipesisirnya
mencari induk yang telah tua disamudera
desir angin kali ini cukup tenang
meski tetap memainkan rokku yang panjang
menyemai soal kerinduan yang menghadang
kemudian mati tertutup sang karang
hingga malam mencekam
tarian suara kukulai* memanggil mistik
aku tetap menulis walau huruf tak lagi bersahabat
walau kata menjauhi
dan kalimat tak mau bersatu lagi
kutulis tentang kalimat rindu
namun sakit kini bersatu
kuucap sebait nestapa
tapi harapan itu telah tiba
walau Aku tak mampu lagi berdiri disini
menunggu perahu yang berjanji akan membawaku
pergi menuju harapan yang semakin menjauh
aku tak sanggup lagi menahan gelombang
jiwa yang kian rapuh atas apa yang tak mampu aku menulisnya
maaf, sebuah tentang kata
huruf yang disatukan
dan bermakna sebuah permintaan
aku akan mengalah dengan ombak
menyerah pada desiran angin
mungkin,
rokku akan terbang
dan berbicara pada kukulai
lalu mengikuti kura-kura kesamudera
tapi bukan mencari induk tua
melainkan mencari Paus tua
mereka yang bergigi taring
bernafas dengan paru-paru
dan kuat untuk pergi
menembus gelombang samudera
sebab aku hanya ikan kecil
yang hnya bernafas dengan insang
dan tak mampu
mengarungi samudera disana
*kukulai: burung hantu dalam bahasa banjar
bercengkrama dengan para pengumpul ikan
perahu mereka tak goyah walau gelombang menghantam
jala mereka takkan robek meski ikan menari disana
Di ujung pantai nampak sang mata rapuh berdiri
menanti sosok pengumpul ikan kembali
kura-kura kecil berjalan dipesisirnya
mencari induk yang telah tua disamudera
desir angin kali ini cukup tenang
meski tetap memainkan rokku yang panjang
menyemai soal kerinduan yang menghadang
kemudian mati tertutup sang karang
hingga malam mencekam
tarian suara kukulai* memanggil mistik
aku tetap menulis walau huruf tak lagi bersahabat
walau kata menjauhi
dan kalimat tak mau bersatu lagi
kutulis tentang kalimat rindu
namun sakit kini bersatu
kuucap sebait nestapa
tapi harapan itu telah tiba
walau Aku tak mampu lagi berdiri disini
menunggu perahu yang berjanji akan membawaku
pergi menuju harapan yang semakin menjauh
aku tak sanggup lagi menahan gelombang
jiwa yang kian rapuh atas apa yang tak mampu aku menulisnya
maaf, sebuah tentang kata
huruf yang disatukan
dan bermakna sebuah permintaan
aku akan mengalah dengan ombak
menyerah pada desiran angin
mungkin,
rokku akan terbang
dan berbicara pada kukulai
lalu mengikuti kura-kura kesamudera
tapi bukan mencari induk tua
melainkan mencari Paus tua
mereka yang bergigi taring
bernafas dengan paru-paru
dan kuat untuk pergi
menembus gelombang samudera
sebab aku hanya ikan kecil
yang hnya bernafas dengan insang
dan tak mampu
mengarungi samudera disana
*kukulai: burung hantu dalam bahasa banjar
Jumat, 20 September 2013
Lihatlah….!!!
Pagi ini saat tetesan
air terdengar
Gemuruh awan berhempasan
Aku bangun semabari
membuka jendela
Menatap daun yang tanpa
embun
Menatap burung yang
tanpa sayap
Akupun menyaksikan pula
Gunung yang tak lagi
indah, banyak sekali
pohon tumbang
Inikah Indonesiaku
sekarang saat para DPR berkoar-koar
Ingin mensejahterakan
rakyat Indonesia
Namun alam Indonesia dirampas untuk mengisi perut mereka
Wahai…
Tikus-tikus elit ….
Tidakkah kau saksikan
alam Indonesia yang semakin
menangis
Dan hanya melihat
kesejahteraan kalian dalam
Kematian yang semakin
mendekati
~PAH~
sampai detik ini aku tidak tahu apa yang harus aku tulis
aku bahkan tidak tahu harus memikirkan atau tidak perlu dipikirkan
mungkin rangkaian huruf, kata, kalimat, bahkan paragraf sekalipun takkan mampu berucap..
hey pah..
hari ini saat aku coba
merangkai huruf..
menyatukan kata..
dan saat membuat kalimat
aku yakin kau sedang membacanya
dibalik singkapan langit..
hey pah...
bagaimana rasanya berada di sisi-NYA
aku yakin kau bahagia disana...
aku tahu kau mengirimkan bintang yang bisa aku lihat
dari balik jendela
kau tahu pah..??
aku disini baik-baik saja
walau terkadang
pelangi tak berwarna
dan tak ada nyanyian burung...
Pah...
bagaimana kalau nanti kita memancing bersama?
bernyanyi bersama?
dan tertawa bersama?
aku terus berlari pah...
walau kadang lelah tak terasa lagi
dan keringat mulai mengering..
Pah...aku merindukanmu
Senin, 12 Agustus 2013
Kau Dengan Sebuah Isyarat Lara
Ingatkah kau saat
awan membentur pelosok jiwa
Dan menarikan tarian
lara dalam kebisuan?
Mungkin tong
sampah itu berisi sisa lara
Yang kau buang
begitu saja
Lalu kemudian kau
berjalan berlalu
Sambil menenteng
bunga layu yang kau petik
Dari taman hati
yang tak terawat..
Isyarat apa yang
kau berikan pada tanah
Semakin tandus,
gersang bak kehilangan
Air padahal hari
terus saja menangis
Lalu kau biarkan
saja seperti
Isyarat lara
mengaung di senja jiwa
Isyarat duka
menari bersama kematian
Aroma anyir
berirama meneteng hari
Saatnya lara tak
memberi sebuah nestapa
Dan saatnya hujan
memberi kesejukan
Dalam kegersangan
hari ini.
Langganan:
Postingan (Atom)