Sabtu, 30 November 2013

RINDU YANG TAK NAMPAK

Lorong sunyi menyapa kalbu
Berirama dengan suara riang
Memutar kembali waktu yang hilang
Lalu mendesah dengan nafas panjang

Bayang semu kau ukir diatas air
Sementara sajak tak henti melolong
Didekap  erat  sang sunyi
Mengantar pada tusukan irama datar

Kukatakan pada sajak air
Bahwa rindu hanya lanting yang lewat
Dan cinta ibarat daun yang dijatuhkan angin
sementara kau seperti sajakku..
dan masih menjadi sajakku...

Setiap detik yang terbang
bertengger pada pagar rindu
Meneteskan embun kasih pada sehelai rumput
Dan menunggu waktu cepat berlalu

ohhh..
Sajak rindu penghilang mantra
Bisakah kau hadir dalam ucapan menit yang lewat
Lalu mendekap selimut kasih yang tak usai
Mungkin, kita hanya sedikit dari lebah yang hilang
Terganti dengan sayap kup-kupu yang indah
Hingga tak bisa diraba angin

Kamis, 31 Oktober 2013

TUA




Toples itu masih berirama gentar
Kaleng itu masih berbunyi halilintar
Suara tapak kaki masih bernyanyi ragu
Menafsirkan kesunyian dalam dinding lampau
Lalu hilang dimakan senja.

Pak renta...
“apakah kau masih bermain di hari tuamu?”
Sementara senja meniti di ufuk malam
Bu renta..
“bagaimana kau berjalan diarus hening?”
Padahal kakimu mulai reot

Keheningan membalut kalbu
Bermandikan sunyi dalam kegelapan malam
Tanpa suara, raga mulai kaku, nafas mulai hilang dan lalu hilang
Meninggalkan udara yang lengang

Minggu, 13 Oktober 2013

~Lara Asa~



Menangisi malam  yang takkan cepat berlalu
Kau dan aku takkan pernah mengerti
Ini tentang sebuah nestapa
Yang hadir melalui deretan nafas panjang
                Menghempaskan asa yang tersisa
                Lalu luluh dimakan jingga pagi
                Sajak embun mempertegas semua
                Tentang hati yang beranjak pergi
Kau..!!
Pantaskah aku berbicara tentang hati
Yang berharap semilir sejuk  nafas panjang
Lalu, apakah kau menyadari
Tentang jiwa yang tertusuk lalu mati
Dan kini bersiap untuk pergi
                Lelah nafas bersandiwara
                Tapi kau tak jua mengerti tentang rasa
                Yang memiliki banyak asa
                Tega nian kau bersahaja
                Dalam jiwa tanpa dosa

Banjarbaru, 13 okt 2013
                               

Senin, 23 September 2013

Hukum KERTAS

lalang-lalang kertas menari
tersenyum-menangis
berbicara dalam kebisuan
hening...
Menjawab-lalu membisu

berserakan disana-sini
sebuah kertas usang
tanpa arti
namun berlaku
selalu,....

bisa dijual
membawa uang
memberikan harta
namun banyak membawa duka

menangis, berteriak,meraung
kertas bersayap terbang keangkasa

beling-beling semu
memampangkan-kertas putih
sementara, cermin fatamorgana
berkata jujur-kertas hitam

Hey pembuat hitam!!!
pantaskah aku marah
merobek kertas hitam
lalu mencoret kertas putih

sementara kau melindungi mereka
mengaku suci padahal ikut mencuri

Insang: Aku

Senja jingga menapaki hari
bercengkrama dengan para pengumpul ikan
perahu mereka tak goyah walau gelombang menghantam
jala mereka takkan robek meski ikan menari disana

Di ujung pantai nampak sang mata rapuh berdiri
menanti sosok pengumpul ikan kembali
kura-kura kecil berjalan dipesisirnya
mencari induk yang telah tua disamudera

desir angin kali ini cukup tenang
meski tetap memainkan rokku yang panjang
menyemai soal kerinduan yang menghadang
kemudian mati tertutup sang karang

hingga malam mencekam
tarian suara kukulai* memanggil mistik

aku tetap menulis walau huruf tak lagi bersahabat
walau kata menjauhi
dan kalimat tak mau bersatu lagi

kutulis tentang kalimat rindu
namun sakit kini bersatu
kuucap sebait nestapa
tapi harapan itu telah tiba

walau Aku tak mampu lagi berdiri disini
menunggu perahu yang berjanji akan membawaku
pergi menuju harapan yang semakin menjauh
aku tak sanggup lagi menahan gelombang
jiwa yang kian rapuh atas apa yang tak mampu aku menulisnya

maaf, sebuah tentang kata
huruf yang disatukan
dan bermakna sebuah permintaan

aku akan mengalah dengan ombak
menyerah pada desiran angin

mungkin,
rokku akan terbang
dan berbicara pada kukulai
lalu mengikuti kura-kura kesamudera
tapi bukan mencari induk tua

melainkan mencari Paus tua
mereka yang bergigi taring
bernafas dengan paru-paru
dan kuat untuk pergi
menembus gelombang samudera

sebab aku hanya ikan kecil
yang hnya bernafas dengan insang
dan tak mampu
mengarungi samudera disana

*kukulai: burung hantu dalam bahasa banjar

Jumat, 20 September 2013

Lihatlah….!!!



Pagi ini saat tetesan air terdengar
Gemuruh awan berhempasan
Aku bangun semabari membuka jendela
Menatap daun yang tanpa embun
Menatap burung yang tanpa sayap
Akupun menyaksikan pula
Gunung yang tak lagi indah, banyak sekali pohon tumbang
Inikah Indonesiaku sekarang saat para DPR berkoar-koar
Ingin mensejahterakan rakyat Indonesia
Namun alam Indonesia dirampas untuk mengisi perut mereka
Wahai…
Tikus-tikus elit ….
Tidakkah kau saksikan alam Indonesia yang semakin menangis
Dan hanya melihat kesejahteraan kalian dalam
Kematian yang semakin mendekati

~PAH~

sampai detik ini aku tidak tahu apa yang harus aku tulis
aku bahkan tidak tahu harus memikirkan atau tidak perlu dipikirkan
mungkin rangkaian huruf, kata, kalimat, bahkan paragraf sekalipun takkan mampu berucap..

hey pah..
hari ini saat aku coba
merangkai huruf..
menyatukan kata..
dan saat membuat kalimat
aku yakin kau sedang membacanya
dibalik singkapan langit..

hey pah...
bagaimana rasanya berada di sisi-NYA
aku yakin kau bahagia disana...
aku tahu kau mengirimkan bintang yang bisa aku lihat
dari balik jendela

kau tahu pah..??
aku disini baik-baik saja
walau terkadang
pelangi tak berwarna
dan tak ada nyanyian burung...

Pah...
bagaimana kalau nanti kita memancing bersama?
bernyanyi bersama?
dan tertawa bersama?

aku terus berlari pah...
walau kadang lelah tak terasa lagi
dan keringat mulai mengering..

Pah...aku merindukanmu

Senin, 12 Agustus 2013

Kau Dengan Sebuah Isyarat Lara



Ingatkah kau saat awan membentur pelosok jiwa
Dan menarikan tarian lara dalam kebisuan?
Mungkin tong sampah itu berisi sisa lara
Yang kau buang begitu saja
Lalu kemudian kau berjalan berlalu
Sambil menenteng bunga layu yang kau petik
Dari taman hati yang tak terawat..
Isyarat apa yang kau berikan pada tanah
Semakin tandus, gersang bak kehilangan
Air padahal hari terus saja menangis
Lalu kau biarkan saja seperti
Isyarat lara mengaung di senja jiwa
Isyarat duka menari bersama kematian
Aroma anyir berirama meneteng hari
Saatnya lara tak memberi  sebuah nestapa
Dan saatnya hujan memberi kesejukan
Dalam kegersangan hari ini.