Senin, 23 September 2013

Insang: Aku

Senja jingga menapaki hari
bercengkrama dengan para pengumpul ikan
perahu mereka tak goyah walau gelombang menghantam
jala mereka takkan robek meski ikan menari disana

Di ujung pantai nampak sang mata rapuh berdiri
menanti sosok pengumpul ikan kembali
kura-kura kecil berjalan dipesisirnya
mencari induk yang telah tua disamudera

desir angin kali ini cukup tenang
meski tetap memainkan rokku yang panjang
menyemai soal kerinduan yang menghadang
kemudian mati tertutup sang karang

hingga malam mencekam
tarian suara kukulai* memanggil mistik

aku tetap menulis walau huruf tak lagi bersahabat
walau kata menjauhi
dan kalimat tak mau bersatu lagi

kutulis tentang kalimat rindu
namun sakit kini bersatu
kuucap sebait nestapa
tapi harapan itu telah tiba

walau Aku tak mampu lagi berdiri disini
menunggu perahu yang berjanji akan membawaku
pergi menuju harapan yang semakin menjauh
aku tak sanggup lagi menahan gelombang
jiwa yang kian rapuh atas apa yang tak mampu aku menulisnya

maaf, sebuah tentang kata
huruf yang disatukan
dan bermakna sebuah permintaan

aku akan mengalah dengan ombak
menyerah pada desiran angin

mungkin,
rokku akan terbang
dan berbicara pada kukulai
lalu mengikuti kura-kura kesamudera
tapi bukan mencari induk tua

melainkan mencari Paus tua
mereka yang bergigi taring
bernafas dengan paru-paru
dan kuat untuk pergi
menembus gelombang samudera

sebab aku hanya ikan kecil
yang hnya bernafas dengan insang
dan tak mampu
mengarungi samudera disana

*kukulai: burung hantu dalam bahasa banjar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar