Senin, 10 Agustus 2015

“ Menghitung Musim”


Ujung malam memanggil pagi
Kicau burung menyambut ceria mantari
Embun pagi bergoyang molek
Pada ujung daun enceng gondok

Ayah menyeruput sisa kopi terakhir
Sembari menghitung musim

Ibu mengayam sisa tikar tua
Sembari menghitung pohon enau

“tak pula kita mampu menghitung musim
Yang rapuh ditangan manusia”

Ibu, kemana harus kita cari
Rimbun pohon tua itu
Ayah ajari aku menghitung musim

Namun tolong..
Jangan ajari aku pasang pupur
Dan berjualan di sungai Martapura
Sembari mengayuh Jukung

“akan aku ajarkan kau, mengais rezeki di
Hamparan budaya yang lapuk”


Bjb, Nov ‘14
(Antologi Aruh Sastra XI  Tapin: 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar