Ujung malam memanggil
pagi
Kicau burung menyambut
ceria mantari
Embun pagi bergoyang
molek
Pada ujung daun enceng
gondok
Ayah menyeruput sisa
kopi terakhir
Sembari menghitung
musim
Ibu mengayam sisa tikar
tua
Sembari menghitung
pohon enau
“tak pula kita mampu
menghitung musim
Yang rapuh ditangan
manusia”
Ibu, kemana harus kita
cari
Rimbun pohon tua itu
Ayah ajari aku
menghitung musim
Namun tolong..
Jangan ajari aku pasang
pupur
Dan berjualan di sungai
Martapura
Sembari mengayuh Jukung
“akan aku ajarkan kau,
mengais rezeki di
Hamparan budaya yang
lapuk”
Bjb, Nov ‘14
(Antologi Aruh Sastra XI Tapin: 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar