(untuk paman kaki panjang)
Aku memulai langkah pada sedikit sisa malam
Kau berjalan begitu mudah hingga aku tercekat
Pada sunyi yang angin pun menjadi senyap
Aku terhenyak sesaat, pada diam yang mematung
Menahan hempasan degup jantung memecah asaku
Meringkih pada setapak jalan gelap. Aku tersesat
“Bukankah kita saling memilin waktu agar kiranya kita bisa
berdamai?
Menghilangkan hawa panas, yang tidak bisa ditembus meski
dengan jutaan embun”
Kau…
Masih terus berjalan pada waktu yang hampa
Meski ribuan udara sejuk kau hirup
Namun tetap saja. Kau senyap
lalu hilang, walau jutaan
cahaya menyilaukan bahagia
Kau begitu indah dalam dekap sunyi dan hanya aku yang tau
Kau begitu damai pada
ruang yang kau miliki sendiri
Kubiarkan angin mengusap air mataku hingga kering
Dan menyadarkanku bahwa kau adalah semu
Yang terbungkus doaku setiap waktu
Banjarbaru, 13 Agust ‘15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar